Mengapa??? karna agama kita menyakiti yang lain
karna agama kita memaksakan kehendak kita pada mereka yang berbeda
karna agama kita menganggap hina yang lain
karna agama kita menjadi tercerai berai
karna agama kita mempunyai kepedihan di hati
…………………………….
………………………………
………………………………..
…………………………………
………………………………………
Apakah semua berakhir kalau tidak ada agama?
*……………………..*
Agama!! Kata ini beberapa minggu lalu buat aku susah untuk tidur. Aku merasakan mengapa sih agama menyebabkan banyak sekali permasalahan di bumi ini. Tidak hanya permasalahan sekadar cecok. Kalau sekadar itu sih lumayan. Tapi sering kali permasalahan ini menjurus ke aksi kekerasan bahkan saling bunuh entah seagama maupun beda agama ( yang beda agama ini sering kali lebih gawat!!). Dalam pergulatan itu ada rasa aneh , aku merasa yakin Tuhan tetap ada, Ia yang memberi ada segala sesuatu. YAng jadi pertanyan besarku apakah agama itu perlu. Jika melihat posisi aku sekarang mungkin terkesan ironis. Tapi pertanyanklu ini sebetulnya bukan untuk meniadakan agama di bumi ini atau bagaimana meniadakan agama di bumi ini. Pertanyan ini muncul karena aku ingin mengajak dan melihat lebih dalam mengenai fungsi agama.
Mengintip Beberapa Tokoh*
Perihal kritik mengenai fungsi agama inilah yang sepertinya ingin ditunjukkan oleh L Feuerbach, Karl Marx, JP sartre, dkk. Feurbach menjelaskan terjadinya agama sebagai kepercayaan pada Tuhan lewat apa yang dikenal sebagai teori proyeksi. Paham Allah hanyalah proyeksi manusia, citra, sifat-sifat, dan keinginan umat manusia itu sendiri yang dilempar ke luar. Jika seorang pemimpin umat dalam khotbahnya berkata tentang kebaikan, kebaikan itu sendiri merupakan keinginan, ideal yang diharapkan dari pemimpin umat. JIka pemimpin umat mengatakan bahwa Allah bersabda kita harus……..Itu hanya proyeksi dari keinginan pemimpin umat tersebut. Jadi manusia menciptakan Allah menurut citra manusia itu. enga demikian jika ada pemimpin umat atau orang-orang disekitar kita dengan alasan agama menindas sesama manusia, kita bisa mempertanyakan atau mengkriisi adakah kemungkinan apa yang diucapkan bersangkutan adalah proyeksi dari keinginan dirinya.
Ungkapan yang terkenal dari Karl Marx adalah menyebut agama sebagai candu manusia. Mengapa? Pengasingan manusia ke dalam dunia agama ( alienasi) terjadi karena keadaan miskin masyarakat yang menciptakan suasana represif. Karena keadaan yang miskin tentu saja manusia tidak bisa mengembangkan dirinya. Dengan pelbagai tekanan inilah manusia akhirnya melarikan dirinya kekeadan semu yaitu agama dengan alam sorgawinya. Alam alam sorgawi itu agama menjadi tempat ungkapan kemiskinan sekaligus protes atas kemiskinan manusia. Jika menusia mengalami ketidakadilan semisal Lumpur Lapindo, PHK yang tidak adil terhadap buruh, penghilangan paksa/kooptasi, dll dengan mudah manusia dapat jatuh bahwa semua ini adalah cobaan Tuhan atau ungkapan yang sama diucapkan oleh pihak penguasa entah politik maupun agama. Ungkapan cobaan ini justru meninabobokan dari fakta ketidakadilan yang terjadi. Inilah yang dimaksudkan agama sebagai candu masyarakat yang akhirnya karena buaian initidak membebaskan manusia dari keadan miskin dan ketidakadilannya. Satu pertanyaan yang muncul adalah apakah Tuhan penyebab tunggal kesengsaran, ketidakadlian, penderitaan manusia? Patut kita renungkan!!
“Karena manusia bebas dan harus sendiri bertanggung jawab, maka Allah dan segala penetuannya tidak boleh ada .” INilah argumen yang diungkapakan oleh JP Sartre perihal ketegangan agma dan TUhan. Sartre mengungkapkan pendangannya bahwa jika essensi mendahului eksistensi maka konsekuensinya adalah kodrat manusia sebagai essensi yang tetap , sudah ada sejak semula ( dari Tuhan ). Dengan demikian manusia tidak dapat berubah mencapai taraf yang lebih tinggi dari kodrat yang telah ditentukan. Dapat ditarik sebuah garis bahwa manusia tidak ada bedanya dengan tumbuhan atau pun hewan karena manusia tidaklah lain dari pada perkembangan substansial yang ada sebelumnya. Pertanyan besar adalah Dimana kebebasan manusia ?? Penerimaan akan takdir buta, inilah yang dapat kita pertanyakan dalam diri kita. Sering kali hidup kita begitu mudahnya/latah mengatasnamakan takdir saat kita berhadapan denagn situasi-situasi sulit. Seharusnya adalah eksistensi mendahului essensi. Manusia harus merealisasikan dirinya dahulu dengan segala kekuatan yang dimilikinya dan menegasi terus-menerus keadaaan kininya baru ia akan memperoleh kesejatian dirinya, essensinya. Dalam proses realisasi diri dan penegasian inilah kebebasan berada. Lalu dimana Tuhan? Jika menganut pandangan Sartre, supaya perealisasian diri dan penegasian bisa penuh maka Tuhan tidak ada. Ini sesuatu yang mustahil bagi kita yang mengaku beragama apalagi beriman. Kodrat dan kebebasan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan integral. Kodrat merupakan kondisi tempat kita merealisasikan diri dengan pelaksanaan kebebasan. Kebebasan baru bisa dijalankan jika manusia memiliki ruang-ruang untuk melaksakan kebebasannya. Ruang ini ada dalam kodrat manusia yang berasal dari Allah. Pemahaman akan kodrat tidak sama dengan pemahaman akan takdir buta.
So what??
Menjadi tugas agama untuk menjawab, mencerahkan, menemukan jalan keluar persoalan di bumi, bukan malah ikut terhanyut dalam arus persolan itu atau institusi-institusi agama turut andil dalam persoalan yang ada terutama terkait dengan ketidakadilan. Agama di satu sisi mempunyai potensi besar untuk menyatukan umat manusia dengan tetap menghormati latar belakang masing-masing. Bukankah ada nilai universal seperti kebaikan, kejujuran, kesejateraan , dll yang dijunjung umat manusia dan nilai ini ada dalam agama. Namun di sisi lain potensi ini bisa menjadi bencana jika agma tidak mampu menyuarakan ketidakadilan yang terjadi dan menjadi agama menjadi sarana kepentingan para elite di institusi.
* isi sebagaian besar dr tulisan Dr. Simon Tjahjadi “Tantangan ateisme bagi agama”
