Arsip Bulanan: September 2008

Mengapa??? karna agama kita menyakiti yang lain

karna agama kita memaksakan kehendak kita pada mereka yang berbeda

karna agama kita menganggap hina yang lain

karna agama kita menjadi tercerai berai

karna agama kita mempunyai kepedihan di hati

…………………………….

………………………………

………………………………..

…………………………………

………………………………………

Apakah semua berakhir kalau tidak ada agama?

*……………………..*

Agama!! Kata ini beberapa minggu lalu buat aku susah untuk tidur. Aku merasakan mengapa sih agama menyebabkan banyak sekali permasalahan di bumi ini. Tidak hanya permasalahan sekadar cecok. Kalau sekadar itu sih lumayan. Tapi sering kali permasalahan ini menjurus ke aksi kekerasan bahkan saling bunuh entah seagama maupun beda agama ( yang beda agama ini sering kali lebih gawat!!). Dalam pergulatan itu ada rasa aneh , aku merasa yakin Tuhan tetap ada, Ia yang memberi ada segala sesuatu. YAng jadi pertanyan besarku apakah agama itu perlu. Jika melihat posisi aku sekarang mungkin terkesan ironis. Tapi pertanyanklu ini sebetulnya bukan untuk meniadakan agama di bumi ini atau bagaimana meniadakan agama di bumi ini. Pertanyan ini muncul karena aku ingin mengajak dan melihat lebih dalam mengenai fungsi agama.

Mengintip Beberapa Tokoh*

Perihal kritik mengenai fungsi agama inilah yang sepertinya ingin ditunjukkan oleh L Feuerbach, Karl Marx, JP sartre, dkk. Feurbach menjelaskan terjadinya agama sebagai kepercayaan pada Tuhan lewat apa yang dikenal sebagai teori proyeksi. Paham Allah hanyalah proyeksi manusia, citra, sifat-sifat, dan keinginan umat manusia itu sendiri yang dilempar ke luar. Jika seorang pemimpin umat dalam khotbahnya berkata tentang kebaikan, kebaikan itu sendiri merupakan keinginan, ideal yang diharapkan dari pemimpin umat. JIka pemimpin umat mengatakan bahwa Allah bersabda kita harus……..Itu hanya proyeksi dari keinginan pemimpin umat tersebut. Jadi manusia menciptakan Allah menurut citra manusia itu. enga demikian jika ada pemimpin umat atau orang-orang disekitar kita dengan alasan agama menindas sesama manusia, kita bisa mempertanyakan atau mengkriisi adakah kemungkinan apa yang diucapkan bersangkutan adalah proyeksi dari keinginan dirinya.

Ungkapan yang terkenal dari Karl Marx adalah menyebut agama sebagai candu manusia. Mengapa? Pengasingan manusia ke dalam dunia agama ( alienasi) terjadi karena keadaan miskin masyarakat yang menciptakan suasana represif. Karena keadaan yang miskin tentu saja manusia tidak bisa mengembangkan dirinya. Dengan pelbagai tekanan inilah manusia akhirnya melarikan dirinya kekeadan semu yaitu agama dengan alam sorgawinya. Alam alam sorgawi itu agama menjadi tempat ungkapan kemiskinan sekaligus protes atas kemiskinan manusia. Jika menusia mengalami ketidakadilan semisal Lumpur Lapindo, PHK yang tidak adil terhadap buruh, penghilangan paksa/kooptasi, dll dengan mudah manusia dapat jatuh bahwa semua ini adalah cobaan Tuhan atau ungkapan yang sama diucapkan oleh pihak penguasa entah politik maupun agama. Ungkapan cobaan ini justru meninabobokan dari fakta ketidakadilan yang terjadi. Inilah yang dimaksudkan agama sebagai candu masyarakat yang akhirnya karena buaian initidak membebaskan manusia dari keadan miskin dan ketidakadilannya. Satu pertanyaan yang muncul adalah apakah Tuhan penyebab tunggal kesengsaran, ketidakadlian, penderitaan manusia? Patut kita renungkan!!

“Karena manusia bebas dan harus sendiri bertanggung jawab, maka Allah dan segala penetuannya tidak boleh ada .” INilah argumen yang diungkapakan oleh JP Sartre perihal ketegangan agma dan TUhan. Sartre mengungkapkan pendangannya bahwa jika essensi mendahului eksistensi maka konsekuensinya adalah kodrat manusia sebagai essensi yang tetap , sudah ada sejak semula ( dari Tuhan ). Dengan demikian manusia tidak dapat berubah mencapai taraf yang lebih tinggi dari kodrat yang telah ditentukan. Dapat ditarik sebuah garis bahwa manusia tidak ada bedanya dengan tumbuhan atau pun hewan karena manusia tidaklah lain dari pada perkembangan substansial yang ada sebelumnya. Pertanyan besar adalah Dimana kebebasan manusia ?? Penerimaan akan takdir buta, inilah yang dapat kita pertanyakan dalam diri kita. Sering kali hidup kita begitu mudahnya/latah mengatasnamakan takdir saat kita berhadapan denagn situasi-situasi sulit. Seharusnya adalah eksistensi mendahului essensi. Manusia harus merealisasikan dirinya dahulu dengan segala kekuatan yang dimilikinya dan menegasi terus-menerus keadaaan kininya baru ia akan memperoleh kesejatian dirinya, essensinya. Dalam proses realisasi diri dan penegasian inilah kebebasan berada. Lalu dimana Tuhan? Jika menganut pandangan Sartre, supaya perealisasian diri dan penegasian bisa penuh maka Tuhan tidak ada. Ini sesuatu yang mustahil bagi kita yang mengaku beragama apalagi beriman. Kodrat dan kebebasan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan integral. Kodrat merupakan kondisi tempat kita merealisasikan diri dengan pelaksanaan kebebasan. Kebebasan baru bisa dijalankan jika manusia memiliki ruang-ruang untuk melaksakan kebebasannya. Ruang ini ada dalam kodrat manusia yang berasal dari Allah. Pemahaman akan kodrat tidak sama dengan pemahaman akan takdir buta.

So what??

Menjadi tugas agama untuk menjawab, mencerahkan, menemukan jalan keluar persoalan di bumi, bukan malah ikut terhanyut dalam arus persolan itu atau institusi-institusi agama turut andil dalam persoalan yang ada terutama terkait dengan ketidakadilan. Agama di satu sisi mempunyai potensi besar untuk menyatukan umat manusia dengan tetap menghormati latar belakang masing-masing. Bukankah ada nilai universal seperti kebaikan, kejujuran, kesejateraan , dll yang dijunjung umat manusia dan nilai ini ada dalam agama. Namun di sisi lain potensi ini bisa menjadi bencana jika agma tidak mampu menyuarakan ketidakadilan yang terjadi dan menjadi agama menjadi sarana kepentingan para elite di institusi.

* isi sebagaian besar dr tulisan Dr. Simon Tjahjadi “Tantangan ateisme bagi agama”

Karjo pulang dengan beras di tangan

Minah menyambut dengan senyuman

” Malam ini kita bisa makan nasi, Bu!

Ubi sisa tadi pagi simpan saja di lemari

atau biarlah ubi itu jadi camilan kita tuk malam ini

Nak, kita bisa makan nasi malam ini

Bapak dapat rejeki siang tadi

***

Tadi pagi Bapak jualan ombrengan di jalan

Bapak lupa kalau pagi ini ada razia

Dagangan BApak disita , Nak

Bapak sedih, besok kita makan apa?

Di depan mal biasa BApak mangkal, Bapak berjalan

ah…seandainya……..

Bapak hanya bisa duduk meratapi nasib

Dagangan BApak pasti hancur, tak mungkin bisa kembali

Tak ada uang tuk menebusnya

Bapak Pasrah….

***

Bu, saat saya jalan ada dompet jatuh Bu….

Bapak ambil dan liat isinya

Banyak banget Bu

Dengan uang segitu banyaknya, kita bisa pulang kampung beli sawah di sana

Tapi Bu….itu bukan uang kita

Pengen Bapak ambil uang itu

Bapak ingat anak-anak nunggu di rumah

Tapi itu punya orang

Jika Bapak jadi maling anak kita jadi apa?

Kita memang kere tapi kita bukan maling, benarkan Bu???

***

Bapak antar dompet itu ke pos satpam

Kebetulan Bu, yangpunya ada di sana

Orang itu ngasih imbalan 200 ribu rupiah

Alhamdulilah………

Itu uang cukup buat modal ombreengan dan beli beras

kita bisa makan nasi akhirnya….

***

Matur nuwun Gusti

Matur nuwuna Bu…

Ini berkat dari Tuhan….

BU….Bune..jangan senyum saja Bu…

Ngomongo……….

Bu….Bu…MINAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Anak-anaku!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Huahahahahhahahahhahaaa!!!!!!!!!!!!!!!!

Tulisan ini adalah rangkuman dari buku Suseno,Magnis, Etika Dasar, Yogyakarta: Kanisius 1987

Untuk Apa Beretika?

Etika Ilmu yang Mencari Orientasi

Salah satu kebutuhan manusia yang paling fundamental adalah orientasi. Sebelum dapat melakukan sesuatu kita harus mencari orientasi dahulu. KIta harus tahu dimana kita berada, ke arah mana mau bergerak untuk mencapai tujuan kita. Filsafat manusia mengatakan bahwa manusia itu makhluk yang tahu dan mau, artinya kemauan mengandaikan pengetahuan. KIta bertindak berdasarkan pengertian-pengertian dimana diri berada, situasi, kemapuann, dan pelbagai hal agar tindakan dapat terlaksana.

Etika diapndang sebagai sarana orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab petanyaan fundamental” Bagaimana saya harus hidup dan bertindak?” Tujuannya adalah agar kita hidup tidak ikut-ikutan saja dan mengerti mengapa kita harus bersikap “ini-itu”.

Etika dan Ajaran Moral

Yang dimaksud ajaran moral adalah wejangan2, khotbah2, kumpulanperaturan dan ketatapan tentang bagaimana manusia harus hidup bertindak agar menjadi manusia baik. Sumber ajaran moral adalah pelbagai orang dalam kedudukan yang berwenang. Etika merupakan pemikran kritis dan mendasar tentang ajaran2 dan pandangan2 moral (sebuah ilmu). Yang mengatakan bagaimana harus hidup adalah ajaran moral sedangkan etika mau mengerti mengapa kita mengikuti ajaran moral tertentu, bagaimana kita dapat mengambil sikap terhadap ajaran moral tsb. Etika tidak berwenang menetapkan boleh/tidak. Etika berusaha untuk mengerti “Mengapa?”

Guna Etika

4 alasan mengapa perlu etika:

  1. Masyarakat yg smakain plural, juga dalam bidang moralitas. Dengan semakin beragamnya orang2 yg kita jumpai semakain beragam pula pandanagan moral yang kita jumpai. Kita berhadapan pada pertanyan ” Mana yg kita ikuti?” Untuk mencapai pendirian dalampergolakan pandangan2 moral iirefleksi kritis etika dipelukan.
  2. Masa transformasi masyarakat dalam gelombang modernisasi. Dampak dari hal tersebut adalah Rasionalism, materialism, nasionalism, sekularism, pluralism religius, konsumerism, dll yangmengubah budaya dan lingkungan kita. Nilai-nilai budaya tradisional ditantang oleh hal-hal di atas. Etika membantu kita untuk tidak kehilangan orientasi sehingga dapat membedakan antara apa yang hakiki dan apa yang boleh berubah dengan demikian dapat mengambil sikap-sikap yang dapat dipertanggungjawabkan.
  3. Proses perubahan sosial memunculkan pelbagai tawaran ideologi. Etika membantu untuk bersikap kritis dan objektif dalam ketika berhadapan dengan ideologi-ideologi yang ditawarkan.
  4. Etika diperlukan kaum agama untuk menemukan dasar kemantapan dalam iman kepercayaan mereka, sekaligus berpartisipasi dalam semua dimensi perubahan dalam masyarakat.

Etika dan Agama

2 masalah dalam bidang agama yang membutruhkan etika dalam pemecahannya:

  1. Interpetasi: Masalah tidak terletak pada wahyu/sabda tetapi pada manusia yang menangkap maksud dari wahyu tsb. Manusia secara hakiki terbatas dalam pengetahuan. Oleh karena interpretasi manusia tidaklah 100% tepat. Metode-metode etika diperlukan selain untuk menemukan pesan wahyu sebenarnya juga mempertanyakan kembali pandangan2 moral agama.
  2. Masalah-masalah moral baru yang tidak terdapat dalam wahyu: dengan menggunakan akal budi dan daya fikirnya yang juga merupakan ciptan Tuhan , etika membantu Agama untuk mengambil sikap terhadap masalah-masalah tersebut.

Arti Kata Moral

Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia. Norma2 moral adalah tolok ukur untuk menetukan betul salahnya sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran tertentu.

Norma umum ada 3 macam:

  1. Norma sopan santun: Sikap lahiriah manusia. Sikap lahiriah dapat mengungkapkan sikap hati o.k.i mempunyai kualitas moral. Sikap lahiriah sendiri tidak bersifat moral.
  2. Norma Hukum : Norma2 yang dituntut denga tegas oleh masyarakat karena diangap perlu demi keslamatan dan kesejahteraan umum.Hukum tidak untuk mengukur baik-buruknya manusia melainkan untuk menjamin ketertiban umum.
  3. Norma2 moral : tolok2 ukur yg dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. {enilaian tidak dilihat dari salah satu segi, melaikan sebagai manusia.