Arsip Bulanan: Oktober 2008

aku bukan ilalang

Tumbuh diantara hamparan padi menguning

aku bukan duri

melekat di tangkai mawar merekah

bukan pula aku air

tetesan-tetesannya memberi warna kehidupan

bukan pula aku bintang

sinar yang memberi indahnya langit malam dan terang di antara gelap

siapa aku??!!

aku!!!

kedua tangan ini ku berkarya

mengggapai segala imopian dan cita-cita hidup ini

kedua kaki ini ku melangkah

berjalan menyusuro lorong-lorong gelap dan terang perjalanan

dengan hati ini, apa yg kumiliki ku  mencinta

cinta??!!

ia ada dan tinggal di hatiku

ia membuatku terus berjuang meniti langkahku

ia bersama aku bernaung dikedamian dirinya

tapi……

cinta tak memiliki suatu pun dan dimiliki suatu pun

karena cinta cukup denga cinta

berjalan menuju pencapain dirinya

…………….agrh……agrh……….

hanyalah air mata dii waktu sunyi

ygang dapat memberi obat nurani keheningan hati

…..ia dan aku bicara!….

Jeffrey D. Sachs, guru besar ekonomi dan Direktur Earth Institute pada Columbia University. Ia juga penasihat khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Millennium Development Goals

Pada tahun-tahun terakhir, Amerika Serikat telah menjadi sumber ketidakstabilan global, bukan lagi sumber pemecahan masalah global. Contohnya adalah perang di Irak yang dilancarkan AS berdasarkan alasan yang palsu, rintangan yang diterapkannya terhadap upaya mengatasi perubahan iklim, bantuan tidak memadai yang diberikannya bagi pembangunan, dan pelanggaran yang dilakukannya terhadap perjanjian internasional seperti Konvensi Jenewa. Sementara banyak faktor menyumbang terhadap tindakan-tindakan Amerika yang membuat dunia tidak stabil, satu faktor yang menonjol adalah anti-intelektualisme, yang dicontohkan baru-baru ini oleh meningkatnya popularitas calon wakil presiden dari Partai Republik, Sarah Palin.

Dengan anti-intelektualisme, yang saya maksudkan terutama adalah perspektif anti-ilmiah yang agresif serta ketidaksenangan terhadap mereka yang berpegang teguh pada ilmu pengetahuan dan bukti-bukti yang mendukungnya. Tantangan yang dihadapi sebuah negara adidaya seperti AS memerlukan analisis informasi yang tajam menurut kaidah-kaidah ilmiah terbaik.

Perubahan iklim, misalnya, merupakan ancaman besar terhadap bumi yang harus ditakar sesuai dengan norma-norma ilmiah yang berlaku serta ilmu iklim yang berkembang. Inter-Governmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah kelompok ilmiah yang diganjar Hadiah Nobel, telah menetapkan standar emas yang ketat dalam menganalisis ancaman perubahan iklim akibat ulah manusia ini. Kita butuh politikus yang memiliki kemampuan ilmiah serta pemikiran yang kritis berbasis bukti-bukti ilmiah untuk menerjemahkan temuan-temuan yang diperoleh dan saran-saran yang tersusun ke dalam kebijakan dan kesepakatan internasional.

Namun, di Amerika Serikat, sikap Presiden Bush, tokoh-tokoh Partai Republik, dan sekarang Sarah Palin, justru bertolak belakang dengan bukti-bukti ilmiah. Selama delapan tahun Gedung Putih telah melakukan segala macam upaya untuk menyembunyikan konsensus ilmiah yang luas bahwa perubahan iklim itu terjadi karena ulah manusia. Ia berusaha mencegah para pakar ilmiah dalam pemerintahan berbicara jujur kepada publik. The Wall Street Journal juga telah menjajakan laporan-laporan anti-ilmiah dan pseudo-ilmiah yang menentang kebijakan mengatasi perubahan iklim karena ulah manusia ini.

Pendekatan anti-ilmiah ini tak hanya telah mempengaruhi kebijakan iklim, tapi juga kebijakan luar negeri. AS melancarkan perang di Irak berdasarkan naluri jagoan dan keyakinan agama Bush, bukan berdasarkan bukti-bukti yang kuat. Begitu juga, Palin telah menamai Perang Irak sebagai “tugas dari Tuhan”. Mereka bukan individu-individu yang tersendiri, melainkan tokoh-tokoh berpengaruh yang kehilangan kontak dengan realitas. Mereka mencerminkan kenyataan bahwa sebagian masyarakat Amerika, yang saat ini terutama pemilih Partai Republik, menolak atau semata-mata tidak mengetahui bukti-bukti dasar ilmiah mengenai perubahan iklim, evolusi biologi, kesehatan manusia, dan bidang-bidang lainnya. Para pemilih Partai Republik ini umumnya tidak menolak manfaat teknologi hasil ilmu pengetahuan modern. Tapi mereka menolak bukti-bukti ilmiah dan pendapat yang diberikan para ilmuwan menyangkut kebijakan publik.

Data survei yang baru-baru ini dilakukan Pew Foundation menemukan bahwa, sementara 58 persen para pemilih Partai Demokrat percaya bahwa pemanasan global adalah akibat ulah manusia, hanya 28 persen pemilih Partai Republik yang berpendapat sama. Begitu juga, sebuah survei yang dilakukan pada 2005 menemukan bahwa 59 persen pemilih Partai Republik yang mengaku sebagai pemilih konservatif menolak teori evolusi, sementara 67 persen pemilih Partai Demokrat yang liberal umumnya menerima versi tertentu teori evolusi. Yang jelas, sebagian dari mereka yang menolak itu semata-mata karena tidak tahu secara ilmiah akibat mutu pendidikan sains yang buruk di Amerika. Tapi yang lainnya adalah fundamentalis yang menolak sains modern, karena mereka mempercayai apa yang dikatakan Injil itu benar secara harfiah. Mereka menolak bukti geologis perubahan iklim, karena mereka menolak ilmu geologi itu sendiri.

Persoalan di sini bukan agama versus ilmu pengetahuan. Semua agama besar punya tradisi berhubungan dengan–dan, sesungguhnya, mendukung–penyelidikan ilmiah. Zaman keemasan Islam seribu tahun yang lalu juga merupakan zaman ketika dunia dipimpin ilmu pengetahuan Islam. Paus Yohanes Paulus II menyatakan dukungan terhadap ilmu dasar evolusi, dan para uskup Katolik Roma sangat mendukung upaya mengatasi perubahan iklim karena ulah manusia ini, berdasarkan bukti-bukti ilmiah.

Beberapa ilmuwan terkemuka, termasuk salah seorang biolog paling terkenal di dunia, E.O. Wilson, telah mengulurkan tangan kepada masyarakat beragama untuk mendukung perjuangan melawan perubahan iklim karena ulah manusia ini dan mempertahankan kelestarian biologis, dan masyarakat beragama telah menyambut baik uluran tangan bagi keselarasan dengan ilmu pengetahuan itu.

Masalahnya adalah fundamentalisme agresif yang menolak sains modern dan anti-intelektualisme agresif yang memandang para pakar dan ilmuwan sebagai musuh. Pandangan semacam itulah yang bisa membahayakan kita semua. Bukankah ekstremis semacam itu bisa membawa kita kepada perang, berdasarkan pandangan yang keliru bahwa perang adalah kehendak Tuhan, bukan karena gagalnya politik dan kerja sama antarbangsa.

Dalam banyak pernyataannya, Palin tampaknya gigih membawa nama Tuhan dalam penilaiannya mengenai perang, tanda yang mengerikan bagi masa depan dunia jika ia terpilih. Ia sudah pasti akan melahirkan banyak musuh yang akan mendukung model fundamentalismenya sendiri untuk memukul balik AS. Kaum ekstremis di kedua belah pihak akhirnya justru membahayakan mayoritas umat manusia yang bukan ekstremis atau fundamentalis yang anti-ilmiah itu.

Sulit mengetahui dengan pasti apa yang menyebabkan maraknya fundamentalisme di banyak bagian dunia. Apa yang terjadi di AS, misalnya, tidak terjadi di Eropa, tapi jelas merupakan karakteristik beberapa bagian Timur Tengah dan Asia Tengah. Fundamentalisme tampaknya muncul di saat terjadinya perubahan besar, ketika hubungan sosial tradisional terancam runtuh. Bangkitnya fundamentalisme modern di Amerika dalam politik mulai terjadi di era perjuangan penegakan hak-hak sipil pada 1960-an dan paling tidak mencerminkan pukulan balik masyarakat kulit putih terhadap meningkatnya kekuatan politik dan ekonomi masyarakat non-kulit-putih dan kelompok minoritas imigran di negeri itu.

Satu-satunya harapan umat manusia adalah bahwa lingkaran setan ekstremisme ini dapat digantikan dengan pemahaman global bersama akan tantangan perubahan iklim, pasokan pangan, energi yang berkelanjutan, kelangkaan air, dan kemiskinan yang kita hadapi saat ini. Proses ilmiah global seperti yang dibawakan IPCC sangat menentukan, karena ia memberikan harapan terbaik bagi kita dalam membangun konsensus berdasarkan bukti-bukti ilmiah. Amerika harus kembali ke konsensus global berdasarkan ilmu pengetahuan yang kita warisi bersama, bukan anti-intelektualisme. Itulah tantangan mendesak di jantung masyarakat Amerika saat ini. *

Hak cipta: Project Syndicate, 2008

Koran Tempo Edisi 04 Oktober 2008

terbayang dalam lamunan jeritan kesakitan, rintihan minta belas kasihan hingga jiwa yg mengelana tanpa kepastian

terdengar pula dalam obrolan kisah seseorang mencari Bapaknya yang hilang setelah dipanggil serdadu 40-an tahun silam

terlihat pula wajah seorang wanita tua di televisi dengan tatapan tajam matanya menuntut kebenaran peristiwa yang membuatnya terlempar di pulau entah berantah

terasa semua gelap, meninggalakan rasa benci dan curiga, rasa ketidakutuhan sebagai manusia sebab ada bagian sejarah hidupnya yang dilupakan bahkan dihilangkan

****

suara kaum tak bersuara biarkanlah terdengar sayup-sayup mengelitik hati nurani sampai manusia tak ingkar diri lagi