Skip navigation

I . Latar Belakang

Pemikiran Marx tidak terlepas dari situasi yang terjadi pada abab 18 dan 19 yaitu perkembangan industri sebagai dampak dari Revolusi Industri yang diawali di Inggris. Marx melihat ada ketidakberesan dalam masyarakat yang dijumpainya karena muncul muncul ketidakadilan dan manusia terasing dari dirinya sendiri. Keterasingan ini sebagai dampak dari hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Hak milik atas alat-alat produksi ini menjadikan perbedaan kelas antara kelas atas kelas bawah. Bentuk struktur dan hubungan yang terjadi dalam bidang ekonomi ini dicerminkan dalam dalam struktur kekuasaan di bidang sosial-politik dan ideologi.

Munculnya kelas-kelas sosial dan hak milik atas alat-alat produksi disebabkan karena usaha manusia untuk mengamankan dan memperbaiki keadaan hidup. Usaha ini dilakukan dengan pembagian kerja yang semakin spesialis. Pembagian yang semakin spesialis inilah yang akhirnya membuat perbedaan tajam antara hidup sesorang yang berada di kelas atas ( karena dia menguasai alat-alat produksi sehingga tidak perlu bekerja tapi memperoleh penghasilan yang tinggi) dan kelas bawah ( ketiadaaan kepilikan alat-alat produksi memaksa kelas bawah/pekerja bekerja keras untuk bertahan hidup ).

Menurut Marx, pembebasan manusia dari keteransingannya ini dapat tercapai apabila hak milik pribadi atas alat-alat produksi dihapus. Dengan demikian tercipta keadaaan tanpa hak atas milik pribadi ( sosialisme). Namun penghapusan ini tidak dapat dilakukan begitu saja. Sebagaimana hak milik atas alat-alat produksi muncul dari perkembangan historis, maka penghapusan ini tergantung pula pada syarat-syarat /hukum-hukum objektif. Maka. Marx melakukan penelitian syarat-syarat objektif penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan sosialisme.

Dari latar belakang inilah akhirnya terbentuk sistem filsafat Marx yang dikenal sebagai materialisme sejarah.

II. Mengenal Materialisme Sejarah

Marx mengemukakan bahwa yang menentukan perkembangan masyarakat bukanlah kesadaran masyarakat, bukanlah apa yang dipikirkan masyarakat tentang dirinya tetapi keadaan riil masyarakat itu sendiri, kondisi dan situasi hidup masyarakat. Jadi bukan sesuatu yang abstrak yang ada ditataran kepala, yang bayangkan, dicita-citakan, tapi fakta-fakta /keadaan yang ada , proses hidup yang nyata. Cara manusia menghasilkan apa yang dibutuhkan untuk hidup itulah yang disebut keadaan masyarakat. Dengan demikian, keadaan masyarakat selain mempengaruhi perkembangan masyarakat juga mempengaruhi kesadaran masyarakat itu sendiri.

Keadaan masyarakat yang dimaksud adalah produksi dan pekerjaan manusia. Manusia ditentukan oleh produksi, baik hasil produksinya maupun cara berproduksi. Pandangan inilah yang disebut materialisme, yang berarti kegiatan dasar manusia adalah kerja manusia. Dalam hal ini pandangan Marx menerima Feurbach[1] bahwa kenyataan terakhir adalah objek indrawi dalam pengertian objek indrawi ini dipahami sebagai kerja atau produksi. Namun perbedaan dari Feurbach adalah dunia indrawi yang mengelilinginya itu bukan sesuatu yangada begitu saja, melainkan alam merupakan produk dari industri dan masyarakat dalam arti alam adalah produk dari sejarah.

Kata meterialisme yang digunakan Marx bukanlah dalam arti filosofis sebagai kepercayaan bahwa hakekat seluruh realitas adalah materi, melainkan ia ingin menunjukan pada faktor-fakor yang menentukan sejarah yang terdapat dalam produksi kebutuhan manusia. Seperti dalam penjelasan sebelumnnya faktor-faktor ini mengacu pada keadaan manusia.

Istilah sejarah mengacu pada Hegel[2] sebagai proses dialektis diterima Marx. Akan tetapi terdapat perbedaan pengertian. Sejarah dalam pengertian Marx adalah perjuangan kelas-kelas untuk mewujudkan kebebasan, bukan perihal perwujudan diri Roh, bukan pula tesis–anti tesis Roh Subjektif –Roh Objektif melainkan menyangkut kontradiksi-kontradiksi hidup dalam masyarakat terutama dalam kegiatan ekonomi dan produksi.[3] Jadi untuk memahami manusia dan perubahannya tidak perlu memperhatikan apa yang dipikirkan oleh manusia melainkan melihat segala hal yang berkaitan dengan produksi.

Begitu pula dengan kesadaran dan cita-cita manusia ditentukan oleh keadaannya dalam masyarakat dalam hal ini kedudukannya dalam kelas sosial. Sebagai contoh kaum buruh ( kelas proletar). Ketiadaan atas kepemilikan alat-alat produksi membuat buruh secara historis terpaksa tidak punya banyak pilihan bertindak. Tujuan dan kegiatan historisnya telah digariskan dalam keadaan hidupnya yang “bergantung” dari kemauan kelas pemilik alat-alat-produksi. Karena keadaan ini, cara produksi menentukan cara manusia berpikir. Dalam hal ini, cara berpikir buruh karena bergantung pada kelas atas adalah bagaimana untuk dapat bertahan hidup ( survive ). Sedangkan pada kelas atasnya adalah untuk menguasai sebanyak-banyak alat produksi. Dari hal tersebut dapat ditarik beberapa hal. Pertama, cara berproduksi menentukan adanya kelas-kelas sosial. Kedua, keanggotaan dalam kelas sosial menentukan kepentingan orang. Ketiga, kepentingan menentukan apa yang dicita-citakan, apa yang dianggap baik-buruk.[4].

Jika keadaan menentukan cita-cita dan kesadaran, maka bagi Marx, hidup rohani,agama, moralitas, nilai-nilai budaya , dll bersifat sekunder . Hal-hal tersebut bersifat primer karena hanya mengungkapkan keadaan primer, struktur kelas masyrakat dan pola produksi. Jika kita mengharapkan perubahan dalam masyarakat maka yang diperlukan adalah perubahan dalam cara produksi. Perihal hubungan lingkup kehidupan manusia ini dapat dibayangkan sebuah bangunan yang terdiri dari basis dan bangunan atas.

a. Basis/Dasar

Basis ( unterbau)ditentukan dua faktor. Pertama, tenaga-tenaga produktif yaitu kekuatan-kekuatan yang dipakai oleh masyarakat untuk mengerjakan dan mengubah alam. Ada tiga unsur yang termasuk tenaga-tenaga produktif: alat-alat kerja, manusia dan kecakapan yang dimiliki, dan pengalaman produksi. Kedua, hubungan-hubvungan produksi yaitu, hubunagn kerja sama atau pembagian kerja antara manusia yang terlibat dalam proses produksi. Hubungan-hubungan ini dalam pengertian struktur pengorganisasian sosial produksi. Misalkan pemilik modal dan pekerja. Hubungan-hubungan produksi selalu berupa hubungan kelas ( struktur kelas ). Karena struktur kelas ditentukan atas hak milik atas alat-alat produksi maka hubungan produksi ditentukan oleh hal yang sama juga.

Hubungan-hubungan produksi dalam basis selalu berupa struktur kekuasaan ekonomis. Hubungan produksi ditandai dengan fakta bahwa alat-alat produksi dikuasi oleh pemilik. Maka konflik antar kelas mewarnai hubungan dalam basis.

Selain itu, hubungan-hubungan produktif ditentukan oleh tingkat perkembangan tenaga produktif, tidak tergantung pada kemauan orang tetapi pada tuntutan objektif produksi. Sedangkan alat-alat kerja dikembangkan bukan menurut selera manusia melainkan di bawah tekanan produksi untuk semakin efisien. Jadi tingkat perkembangan produksi berdasarkan insting /naluri manusia untuk mempertahankan hidup.

b. Banguanan Atas

Bangunan atas (unberbau)terdiri dari dua unsur. Pertama, tatanan institusional yaitu: segala macam lembaga yang mengatur kehidupan bersama masyarakat di luar bidang produksi, semisal sistem negara dan hukum. Kedua, tatanan kesadaran kolektif memuat segala kepercayaan, norma-norma, dan nilai yang memberikan kerangka pengertian, makna, dan orientasi spiritual kepada manusia. Semisal pandangan budaya, seni, agama, dan filsafat.

Menurut Marx, Institusi-institusi, agama, moralitas, dll ditentukan oleh struktur kelas dalam masyarakat dan negara selalu mendukung kelas atas dan agama serta sitem lainnya memberi legitimasi atas kekuasaan kelas atas. Dengan kenyataan bahwa bidang produksi ( kekuasaan di bidang ekonomi ) dikuasai oleh pemilik alat-alat produksi maka, struktur-struktur kekuasaan politis dan ideologis dientukan oleh struktur hak milik juga. Inilah yang dimaksudkan dalam basis dan bangunan.

Melihat realita dilapangan memang demikian. Mereka yang berkuasa dalam ekonomi adalah pemilik modal (alat-alat produksi). Selain mereka menguasai ekonomi, ideologi dan politik pun mereka kuasai. Kepercayaan-kepercayaan dan sistem nilai semisal feodal atau ajaran yang diberikan para pemimpin agama menjadi sumber legitimasi bagi kekuasaan kelas atas.

Ketegangan antara kekuatan produksi yang terus berkembang seiring dengan tututan efisiensi dalam produksi dengan pola hubungan konservatif kelas atas dan bawah (kedudukan yangtidak seimbang) akhirnya membawa pada revolusi. Revolusi ini tidak disebabkan oleh negara sebagai agen perubahan. Dengan keberpihakan negara pada kelas atas maka negara tidak dapat diharapkan menjadi agen perubahan. Kelas bawahlah yang menjadi agen perubahan bagi dirinya sendiri. Usaha pertentang kelas bawah inilah yang dinamakan perjuang kelas, motor kemajuan sejarah.

Kelas bawah dapat melakukan perjuangnnya walau mendapatkan penindasan kelas atas karena perkembangan tenaga-tenaga produktif. Kepentingan ekonomi kelas penguasa untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya menjadi dorongan kelas penguasa untuk melakukan perbaikan, perluasan produksi serta rasionalisasi, efisiensi cara produksi yang pada akhirnya meningkatkan kemampuan tenaga produksi ( buruh /kelas bawah). Kemampuan yang terus bertambah ini akhirnya mendorong mereka untuk bersatu dan melakukan perlawanan. Sedangkan struktrur kekuasaan ekonomis tidak berkembang terlebih dengan usaha dari masing-masing anggota tiap kelas untuk memiliki kekuasaan sebesar-besarnya. Akhirnya beranjak dari situasi inilah revolusi terjadi dan kelas bawah dapat mengalahkan kelas atas.

III. Tanggapan

Dalam materialisme sejarah menurut Marx, tanpak sejarah ditentukan oleh faktor-faktor ekonomi. Faktor-faktor ekonomi seperti memainkan peran tunggal dalam perkembangan sejarah manusia. Hal yang dapat menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan kebebasan manusia dalam sejarah manusia? Bukankah kebebasan manusia juga memainkan peranan penting dalam sejarah manusia?

Pola searah dalam kaitan antara ekonomi dengan politik serta cita-cita, tidakkah dapat terjadi hubungan timbal balik? Kepentingan politik dan cita-cita juga dapat berpengaruh dalam ekonomi. Begitu juga pola hubungan searah antara basis dan bangunan atas, seharusnya hubungan yang terjadi adalah timbal balik juga.

Mengenai peran negara yang bukan sebagai agen perubahan dapat dipertanyakan. Justru negara memainkan peran penting dalam perubahan karena kekuasaan yang dimilikinya. Hal yang diabaikan oleh Marx adalah sekalipun ekonomi hancur pemerintah masih dapat menjalankan pemerintahannya dan mempertahankan diri.

Berkaitan revolusi kelas bawah, hal yang memungkinkan terjadi adalah kompromi dari kelas atas terhadap tuntutan kelas bawah sehingga proses perjuangan kelas bawah tidak sampai pada tahap revolusi. Jadi usaha mewujudkan keadilan sosial seperti yang dibayangkan Marx tidaklah benar bila melulu lewat revolusi, yang tepat adalah perlu tekanan dari bawah untuk dapat menciptakan keadilan sosial. Kelas bawah seperti dikatakan tetap harus memperjuangkan sendiri hidup mereka ke arah yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Copleston, Federick, A History of Philosophy Volume: VII, New York : Image Books, 1994

Hardiman, F. Budi, Filsafat Barat Modern, Jakarta : Gramedia, 2004

Suseno, F. Magnis, Pemikiran Karl Marx, Jakarta : Gramedia, 1999


[1] Menurut Feurbach, kenyataan indrawi yang konkret adalah Alam Material.Alam adalah dasar dasar terakhir dari kenyataan. Artinya serluru kenytaan dapat dikembalikan pada Alam Material sebagai sebagai kenyataan terakhir. F. Budi Hardiman, , Filsafat Barat Modern, Jakarta : Gramedia 2004 hlm 228

[2] Hegel mengatakan bahwa sejarah adlah realitas, sebagai keseluruhan dan tidak terikat localitas. Proses Roh yang absolut menyadari dirinya sendiri

[3] F. Budi Hardiman, , Filsafat Barat Modern, Jakarta : Gramedia 2004 hlm 240

[4] Bdk F. Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, Jakarta : Gramedia, 1999 hlm .141

About these ads

10 Comments

    • imelda gaspersz
    • Posted Agustus 27, 2009 at 10:36 am
    • Permalink

    mmmmhh….
    saya pengen tanya ….
    pengertiian NEGARA menurut karl marx nthu apeh….?
    abiiz saya px tugazz
    moon dijawab secepatx…
    ato kirim ke e-mailx saya

    thx b4

  1. pengertian sejarah secara singkat menurut marx adalah perjuangan kelas.

  2. ooppss salah baca..karna terburu2…

    menurut marx..negara secara hakiki merupakan negara kelas artinya negara dikuasai secara langsung maupun tidak langsung oleh kelas2 yg menguasai bisang ekonomi. dengan perspektif ini maka negara bukan kawan kaum tertindas melainkan lawan. kaum tertindas hendaknya tidak mengharapkan bantuan dari negara……

    • anitya
    • Posted September 29, 2009 at 4:31 am
    • Permalink

    saya mw tanya :
    teori etika kekuasaan menurut karl Marx itu apha ci ?

    t’hannks

  3. salam knal, anitya………

    teiri etika kekuasaan menurut karlmarx secara singkat, “kekuasaan berada ditangan pemilik materi”

    • ardi
    • Posted Maret 26, 2010 at 12:39 pm
    • Permalink

    bang mw nambahin, sperti qta tw marx adalah org yg pnya prinsip tgeuh atas pndirianx, entah dari materialis, agama, bahkan kekuasaan. jdi intix marx adalah org yg mementingkan org yg pnya dbanding org yg ttidak punya. dan Marx juga berpendapat agama itu rancu, jelasnya agama adalah candu rakyat, jdi wajar marx sangat menentang adanya agama, dari sinilah qta bsa ambil kesimpulan, semua tanpa beragama bisa bertindak sewenang2 tanpa memikir apa yg ada dalam asa agama itu sendiri,…. “ardi UIN”

  4. dear Ardi…UIN….

    UNtuk melihat konteks menyeluruh bagaimana marx meletakkan agama dalam konteksnya..bacalah sumber primernyaaa……..marx tidak pernah berpendapat agama itu rancu……..pernyataan agama adalah candu rakyat yg kamu tulis masih sangat ambigu alias ranci jg….skali lagi bacalah buku primernya..minimal terjemahan dalam bahasa indonesia…ato karangan magnis suseno…..tidak ada dalam tukisan marx membuat pengelompokan meterialis ( apa yg kamu ketahui dari kata matrerialis??????, agama, dan kekuasaan….)

    • rery r.h
    • Posted April 14, 2010 at 2:37 am
    • Permalink

    menurut saya, agama di anggap sebagai candu karena di saat si proletar tsb merasa ditekan secara habis-habisan disitulah agama sebagai pahlawan bagi para borjuis karena mampu menyirami perasaan tertekan mereka(proletar) dengan kata-kata yang menyejukkan. sehingga kaum ploretar masih sanggup bertahan di bawah tekanan dan penghisapan yang borjuis lakukan.tapi jangan kwati…kata mark meskipun tanpa adanya revolusi suatu saat kaum borjui akan hancur bersama dengan keserakahanya sendiri.

    • agi
    • Posted Juli 31, 2010 at 9:39 pm
    • Permalink

    terima kasih

    • udin sesduni
    • Posted April 7, 2011 at 1:47 am
    • Permalink

    thanks mas blognya membantu sekali


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: