Pandangan sejarah sebagai suatu siklus dikuasai oleh suatu unsur yang berulang. Dari alam yang penuh kemurahan kembali ke alam yang penuh kemurahan. Kehidupan manusia sendiri merupakan sebuah siklus yang lebih kecil di dalam sebuah siklus alam yang lebih besar. Kedamaian dan ketenangan jiwa menghampiri manusia jika ia meneliti dan menghayati kehidupannya dalam makna perasaan terus berulang. Tidak ada sesuatu yang akan berakhir.

Positif :
Pandangan sejarah yang siklis menunjukkan keharmonisan kehidupan. Keharmonisan ini ditunjukan dengan kehidupan yang terus berlangsung. Setiap wujud/makhluk memiliki peranan dan putaran sendiri-sendiri. Hal ini akan memberikan pengaruh pada manusia untuk hidup harmoni dengan alam. Manusia lebih memandang alam dan segala makhluk bukan sebagai objek diri melainkan rekan atau bagian lain dari kehidupan sebagaimana dirinya.
Sikap harmoni dengan alam ini bila terpenuhi akan membawa ketenangan dalam diri manusia karena keyakinan segala sesuatu bekerja dengan fungsinya sendiri-sendiri. Manusia tidak perlu berhadapan dengan ketegangan dan konflik yang akan membuat dirinya putus asa. Kedamaian dan ketenangan tersedia bagi manusia.
Perasaan bahwa dengan perputaran kehidupan yang terus-menerus berarti pula menimbulkan harapan-harapan bahwa ada banyak peluang kehidupan. Tersedia bagi manusia peluang untuk memperbaiki kehidupannya dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Nasib manusia tidak tergantung dari sesuatu yang dari luar tapi dari diri sendiri dalam suatu prosedur tak terikat oleh waktu. ( Bandingkan dengan siklus linier dimana kehidupan manusia terbatas oleh waktu : satu kali)
Dengan pandangan segala sesuatu memiliki perputarannya sendiri-sendiri, keharmonisan kehidupan yang memberikan ketenangan dan kedamaian, harapan akan ada banyak peluang kehidupan, maka pandangan sejarah sebagai siklus membawa pada sikap sederhana. Semua telah ada.
Negatif:
Jika manusia memandang sejarah sebagai siklis dan begitu pula dengan kehidupan, terus-berganti dan berputar, apa tujuan manusia hidup di dunia? Apakah hanya sekadar menjadi siklis kecil tak bermakna karena alam dan makhluk lain juga bergerak dengan aturannya sendiri?
Dengan pandangan terus berulang, bebas dari tegangan dapat membuat manusia untuk hidup stagnan, tidak ada perubahan. Manusia yang mengembangkan dirinya, menyempurnakan diri, sehingga semakin manusiawi dipertanyakan. (”Buat apa harus ”ngoyo” karena besok masih ada kesempatan!). Tanggung jawab yang ada kemungkinan hanya dalam kontek keharmonisan, sadangkan tanggung jawab dalam konteks mengembangkan alam dan sesama manusia dipertanyakan jika berpegang pada pandangan sejarah yang siklis.
Perasaan putus asa, usaha untuk bertahan hidup, kehendak mengatasi konflik yang dihadapi pastilah dialami manusia karena sejarah kehidupan manusia sendiri bukanlah sebuah jalan yang lurus dan dari dalam diri manusia pasti ada kehendak-kehendak yang dapat berbenturan dengan sesama atau alam. Yang dihadapi saat ini, itulah yang digumuli. Konflik tantangan tetap dibutuhkan manusia untuk mengembangkan dirinya.
Jika sejarah digambarkan sebagai spiral yang menanjak ke atas, bagaimana mungkin hal itu terwujud? Pandangan siklis dimana kehidupan terus-berulang berarti siklis yang terbentuk adalah tetap ( sulit untuk membayangkan spiral yang menanjak ke atas) entah kehidupan berikutnya lebih baik atau pun lebih buruk. Hal ini dimungkinkan karena dalam pandangan sejarah siklis tidak memandang pengharapan sebagai sesuatu janji dari atas, yang dapat diartikan Pengada dianggap juga bagian dari Siklis alam yang lebih besar.
Spiral yang bergerak ke atas dimungkinkan jika pendangan sejarah sebagai siklis dan pandangan sejarah sebagai linear saling mengisi dan Pengada ada dalam gerak yang menuju ke atas atau Pengada ada dalam perkembangan sejarah.

Tulis sebuah Komentar

*
*