Rasionalitas dan Kesadaran Moral

  1. Emotivisme : pandangan yang mengatakan bahwa masalah atau penilaian moral itu hanyalah perkara perasaan (emotion) saja, sehingga ia tidak bisa dinilai secara objektif dan dipertanggungjawabkan secara rasional.

  1. Rasionalitas kesadaran moral : kenyataan bahwa persoalan atau penilaian moral adalah masalah objektif dan rasional, sehingga bisa dipertanggungjawabkan, didiskusikan, didebat, diberi argumentasi pro atau kontra, dsb.

  1. Universalitas kesadaran moral : kesadaran bahwa seharusnya setiap orang dalam situasi saya sependapat dengan saya. Atau, bahwa apa yang dalam suara hati, saya sadari sebagai kewajiban saya, merupakan kewajiban bagi siapa saja yang berada dalam situasi yang sama dengan saya.

  1. Bagaimana dapat diperlihatkan bahwa penilaian moral bukan sekedar masalah perasaan?

Penilaian moral bukan sekedar masalah perasaan, melainkan masalah kebenaran objektif. Kalau ada perbedaan pendapat moral, kita tidak akan berdebat tentang perasaan kita, melainkan tentang apa yang secara objektif menjadi kewajiban kita dan apa yang tidak. Fakta bahwa penilaian-penilaian moral diperdebatkan dengan argumentasi objektif dan bahwa kedua belah pihak sependapat bahwa hanya satu dari dua pendapat yang dapat benar memperlihatkan bahwa penilaian moral bersifat rasional dan objektif. Penilaian moral bersifat rasional dan objektif karena hanya dapat dibenarkan atau disangkal. Fakta bahwa dapat dibenarkan atau disangkal membuktikan rasionalitasnya.

  1. Apa yang dimaksud dengan penilaian moral berlaku umum?

Artinya, aku menyadari keyakinanku akan apa yang wajib dilakukan seharusnya juga merupakan keyakinan setiap orang dalam situasi yang sama dengan aku. Maka dari itu aku berusaha meyakinkan orang lain dengan argumentasi agar mereka pun berkeyakinan sama denganku. Maka dengan demikian SH dapat dibenarkan atau disangkal. Menaati SH itu masuk akal karena dengan demikian tercapai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri.

  1. Apa yang dimaksud dengan mempertanggungjawabkan suara hati?

Karena suara hati bukan hanya masalah perasaan belaka dan karena suara hati mengklaim rasionalitas dan objektivitas, maka ia harus dipertanggung-jawabkan. Tidak cukup bahwa bahwa saya mempunyai pendapat moral tertentu, saya juga harus dapat menunjukkan bahwa pendapat saya ini masuk akal. Suara hati mengikat dengan mutlak, tetapi itu bukan berarti tidak dapat keliru. Tidak ada garansi bahwa suara hati selalu benar. Maka dari itu suara hati harus dipertanggungjawabkan secara rasional.

  1. Apa perbedaan antara pendekatan rasional dengan rasionalistik?

Pendekatan rasionalistik menuntut agar setiap pendapat, anggapan, sikap, tuntutan, harapan, penilaian dan kepercayaan harus dibuktikan dulu kebenarannya, seakan-akan hitam di atas putih sebelum kita menerimanya. Kita tidak boleh menerima anggapan atau kepercayaan dari orang lain sebelum semuanya diuji kebenarannya.

Pendekatan rasional tidak menuntut agar setiap langkah kita pastikan dulu keamanannya sebelum kita mengambilnya, melainkan hanya agar kita mempertanggungjawabkan langkah-langkah kita kalau memang ada alasan-alasan nyata yang membuat kita menjadi ragu-ragu. Jadi pertanggungjawaban moral suara hati tidak berarti bahwa setiap pandangan moral harus kita buktikan dulu melainkan agar kita terbuka pada setiap argumen, sangkalan, dari orang lain atau dari dalam diri kita sendiri.

Etika Normatif: Etika Wahyu dan Etika Peraturan

  1. Etika Normatif : bertanya “menurut norma-norma manakah kita seharusnya mengambil sikap dan bertindak agar dapat dibenarkan secara moral?”

  1. Kaidah etika wahyu : suatu tindakan adalah betul apabila sesuai dengan kehendak Allah; suatu tindakan adalah salah apabila tidak sesuai dengan Allah; suatu tindakan wajib apabila apabila diperintahkan Allah.

  1. Mengapa adanya wahyu yang memuat petunjuk-petunjuk atau peraturan-peraturan moral tidak berarti bahwa etika normatif tidak perlu lagi? Jelaskan dua masalah pokok etika wahyu baik menyangkut isi normanya, maupun menyangkut rasionalitasnya!

Etika wahyu masih membutuhkan etika normatif karena etika wahyu memiliki empat masalah, yakni:

1. Menyangkut isi norma: meskipun apa yang dianggap sebagai maksud Allah ditulis dengan jelas, namun kesimpulan yang ditarik daripadanya masih terbuka terhadap penafsiran.

2. Menyangkut rasionalitas norma wahyu: mendasarkan suatu pewajiban atau pelanggaran tindakan hanya semata-mata pada tulisan wahyu, memuat irasionalisme, jika mengapa pewajiban/pelarangan itu dibuat Allah tidak dijelaskan. Artinya perlu dicari alasan mengapa Tuhan mewajibkan atau melarang sesuatu. Padahal sesuatu buruk bukan karena dilarang Tuhan melainkan karena sesuatu dilarang Tuhan karena buruk.

3. Bahaya relativisme moral: sebab jika perbuatan suatu perbuatan buruk hanya saat Allah mewahyukannya, lalu bagaimana “status moral” perbuatan itu sebelumnya, saat wahyu belum turun.

4. Adanya pengandaian yang bersifat hipokrit, yakni anggapan orang lain yang tidak menerima wahyu itu tidak bisa benar-benar bermoral. Dengan kata lain, orang yang menerima wahyu itu saja yang benar-benar bermoral.

  1. Etika peraturan : Etika yang melihat hakekat moralitas dalam ketaatan terhadap sejumlah peraturan, baik-buruknya tindakan ditentukan dari pelaksanaan aturan.

  1. Manakah keberatan paling utama terhadap etika peraturan?
    1. Merendahkan moralitas menjadi legalitas melulu yang irasional sifatnya. Pokoknya asal taat aturan.
    2. Menyingkirkan tanggung jawab pribadi (orang bersembunyi di balik peraturan)
    3. Bersifat amoral, yakni pada saat-saat dimana aturan sendiri dipakai untuk menginjak moral, misalnya UU resmi pemerintah NAZI Jerman pada saat PD II, Arianisasi.

Etika Situasi dan Relativisme Moral Kultural

  1. Kaidah etika situasi : karena setiap situasi itu unik, maka betul salahnya suatu tindakan hanya dapat diputuskan oleh ybs. dalam dan untuk situasi yang tertentu saja. Tidak ada norma-norma moral umum yang berlaku di mana pun, kapan pun dan terhadap siapa pun

  1. Sejauh mana etika situasi dapat disetujui dan sejauh mana tidak?

Tanggapan kritis : dengan fakta bahwa pandangan moral kebudayaan-kebudayaan para bangsa sangat berbeda satu dengan yang lain, tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa semua pandangan ini sama baiknya. Mungkin dari keanekaragaman pandangan itu hanya salah satu pandangan saja yang betul dan yang lain keliru. Ada kemungkinan bahwa ada banyak masyarakat yang mempunyai pandangan-pandangan moral yang kurang memadai. Jadi dengan argumen bahwa ada banyak masyarakat yang norma-norma moralnya kurang memadai kita dapat menyangkal relativisme modern.

  1. Relativisme moral : pendapat bahwa norma-norma moral tidak berlaku umum.

  1. Relativisme moral kultural : pendapat bahwa norma-norma moral dalam berbagai masyarakat de facto tidak sama.

  1. Bagaimana relativisme moral dapat ditanggapi? Relativisme moral menolak bahwa ada norma-norma moral yang berlaku umum. Dengan itu, norma-norma moral hanya berlaku ralatif terhadap lingkungan atau wilayah tertentu. Percuma kita mencari tolak ukur, karena di setiap tempat tolak ukur itu berbeda-beda. Tanggapan kritis : dengan fakta bahwa pandangan moral kebudayaan-kebudayaan para bangsa sangat berbeda satu dengan yang lain, tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa semua pandangan ini sama baiknya. Mungkin dari keanekaragaman pandangan itu hanya salah satu pandangan saja yang betul dan yang lain keliru. Ada kemungkinan bahwa ada banyak masyarakat yang mempunyai pandangan-pandangan moral yang kurang memadai. Jadi dengan argumen bahwa ada banyak masyarakat yang norma-norma moralnya kurang memadai kita dapat menyangkal relativisme moral.

  1. Norma moral kongkret : norma yang memuat keharusan tindakan yang begitu terperinci, sehingga orang tahu tindakan mana yang dimaksud.

  1. Norma moral abstrak : norma yang mengharuskan sikap yang dapat diwujudnyatakan dalam berbagai tindakan (jadi belum pasti tindakan mana yang harus diambil berdasarkan norma itu)

  1. Norma moral dasariah : norma yang mendasari keberlakuan moral norma-norma moral lain, tetapi norma ini sendiri tidak lagi berdasarkan suatu norma lain. (Norma moral dasariah dengan sendirinya bersifat abtrak).

Hedonisme

  1. Hedonisme etis : teori etika yang mengajarkan agar untuk mencapai kebahagiaan, manusia hendaknya mengusahakan kenikmatan sebanyak mungkin, dan menghindari rasa sakit sebisa mungkin.

Tanggapan kritis : Kenikmatan diakui mempunyai nilai positif dalam upaya mencapai kebahagiaan. Keberatannya ialah identifikas kebahagiaan = kenikmatan. Mengapa?

- Kenikmatan adalah akibat terpenuhinya kecondongan tertentu. Sedangkan kebahagiaan tidak terikat pada pengalaman itu. Manusia bisa merasakan nikmat tanpa merasa bahagia atau mengalami kebahagiaan tanpa merasakan kenikmatan (mis. klasus pengorbanan diri)

- Pengalaman paling membahagiakan justru tercapai jika tidak hanya mengejar kenikmatan.

- Mengingat bahwa manusia mempunyai banyak dimensi sebagai kekayaannya, maka mengupayakan kenikmatan melulu membahayakan keutuhan dan mempermiskin dirinya.

  1. Hedonisme psikologis : teori tentang manusia (bukan teori etika) yang menyatakan bahwa pada akhirnya manusia di dalam segala usahanya memang hanya untuk mencari nikmat saja.

Tanggapan Kritis : kencondongan manusia untuk mencari nikmat tidak dapat disangkal. Apakah ini berarti tujuan hidup manusia hanya untuk mengupayakan kenikmatan saja? apakah satu-satunya dorongan hanya untuk mencari nikmat saja?

- dorongan mencari nikmat hanya salah satu dorogan, bukan keseluruhan dorongan manusia. Ada pluralitas dorongan yang tidak bisa direduksi dorongan hanya mencari nikmat, yang bahkan bisa bertentangan dengan dorogan mencari nikmat.

- Kenikmatan bukan dorongan langsung. Kenikmatan hanyalah akibat dari terpenuhinya suatu dorongan lain. (lapar-makan). Maka manusia biasanya tidak secara langsung mencari nikmat.

- Manusia mempunyai kemampuan untuk memberikan penilaian-penilaian atas dorongan-dorongan yang mempengaruhinya. Berdasarkan kemampuan itu, ia sanggup menguasai diri sehingga tidak disetir dan ditentukan oleh perasaan nikmat.

Etika Pengembangan Diri (Eudemonisme)

  1. Eudemonisme : pandangan etika normatif yang menganggap bahwa kebahagiaan sebagai satu-satunya yang baik demi dirinya sendiri. Adapun kebahagiaan (eudamonia) adalah keadaan dimana seluruh bakat,kemampuan, potensi, dimensi manusia sudah berekembang penuh atau paripurna.

  1. Kaidah eudamonisme : Bertindaklah sedemikian rupa sehinga engkau mencapai kebahagiaan yang sebesar mungkin. Manusia mencapai kebahagiaan menurut Aristoteles lewat theorea (merenungkan realitas secara mendalam) dan praksis (keterlibatan dalam hidup berpolis)

  1. Tanggapan atas teori etika pengembangan diri.

+ mengatasi hedonisme dengan menekan pemenuhan berbagai kecakapan/dimensi yang plural

- kebahagian yang dicari-cari secara obsesif akan jatuh ke dalam egoisme. Perspektif eudamonisme masih berpuat pada kebahagiaan diri sendiri.

- Orang lain belum dianggap sebagai person yang merupakan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan hanya sarana untuk/sejauh membantu mencapai tujuan kebahagiaanku.

Utilitarisme

  1. Prinsip utilitarisme : manusia wajib berusaha untuk selalu menghasilkan kelebihan akibat-akibat baik (dalam arti berguna) yang sebesar-besarnya terhadap akibat-akibat buruk (dalam arti tak berguna) apabila kita bertindak. Singkatnya: usahakanlah agar tindakanmu menghasilkan “the greatest happiness for the greatest number”. Jadi di atara semua tindakan yang dapat kita ambil yang betul adalah tindakan yang yang—sejauh dapat kita perhitungkan—akan paling memajukan kepentingan semua orang yang dapat kita pengaruhi. Utilitarisme menuntut perhatian terhadap semua kepentingan semua orang yang terpengaruh akibat tindakan itu, termasuk pelau itu sendiri.

  1. Jasa utilitarisme : kekuatan utilitarisme terletak di dalam
    1. rasionalitas tindakannya: tindakan harus dipilih dan dipertanggungjawabkan (maka juga menekankan tanggung jawab) apakah memang berguna bagi sebanyak mungkin orang atau tidak. Utilitarisme menciptakan suasana pertanggungjawaban. Segala tindakan moral tidak dapat dikatakan beres—meskipun sudah sesuai dengan peraturan abstrak—sebelum dipertanggungjawabkan dari akibat-akibatnya terhadap semua pihak.
    2. Universalitas akibat atau keberlakuan tindakannya: mengatasi egoisme etis, utilitarisme berikhtiar mencapai kebahagiaan semua orang. Utilitarisme menuntut perhatian terhadap semua kepentingan semua orang yang terpengaruh akibat tindakan itu, termasuk pelau itu sendiri.

  1. Kekurangan prinsipil utilitarisme: tidak menjamin keberlakuan mutlak keadilan dan HAM. Kritik terhadap utilitarisme bukanlah pada apa yang ia katakan melainkan pada apa yang ia diamkan. Upaya mewujudkan “the greatest happiness for the greatest number” tidak boleh dijalankan dengan mengakibatkan “the greatest unhappiness for the smallest number”.

Prinsip-Prinsip Moral Dasar

  1. Ketiga prinsip moral dasar :
    1. Sikap baik : menuntut bahwa pada dasarnya kita harus mendekati siapa saja dan apa saja dengan positif, dengan menghendaki yang baik bagi dia.
    2. Keadilan: menuntut untuk memperlakukan setiap orang secara sama, yakni dengan memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya.
    3. Hormat terhadap diri sendiri: menuntut orang agar tidak membiarkan diri disalahgunakan. Manusia wajib untuk selalu memperlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri.

  1. Prinsip keadilan : kewajiban untuk memperlakukan setiap orang secara sama, yakni dengan memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya.

  1. Prima facie : pada pandangan pertama (latin)

  1. Kewajiban berlaku prima facie : kewajiban harus dijalankan secara mutlak pada pandangan pertama. Artinya, sejauh tidak ada norma lain yang tidak perlu diperhatikan dan dijadikan pertimbangan serius, misalnya karena nilainya yang lebih tinggi. Contoh: jangan berbohong! Adalah perintah normatif yang berlaku mutlak. Namun perintah ini mutlak berlaku prima facie pada saat berhadapan dengan perintah Selamatkanlah Hidup! Dalam peristiwa dimana seorang anak bersembuyi di rumahku dan para penjahat yang mau membunuhnya bertanya padaku tentang anak itu.

  1. Manusia sebagai person : kenyataan manusia bahwa ia itu berakal budi, berkebebasan, dan sanggup menentukan tindakannya sendiri dan oleh karenanya tidak boleh dijadikan sarana melulu untuk sesuatu yang lain, melainkan wajib dijadikan tujuan pada dirinya sendiri.

SAP 12&13

1. Istilah-istilah penting

Ø Emotivisme: pandangan yang mengatakan bahwa masalah atau penilaian moral hanyalah perkara perasaan saja (emotion), sehingga tidak bisa dinilai secara obyektif dan dipertanggungjawabkan secara rasional.

Ø Rasional: dapat dibuktikan kebenarannya dengan argumentasi obyektif.

Ø Rasionalitas: pengertian manusia yang sebenarnya dan bersumber pada lapisan kepribadian yang lebih dalam dimana semua kesan yang diperoleh, dipersatukan dengan segala macam pertimbangan.

Ø Universalitas kesadaran moral: kesadaran bahwa seharusnya tiap orang dalam situasi saya, sependapat dengan saya.

Ø Rasionalistik: lihat jawaban no. 5

2. Penilaian moral bukan sekadar masalah perasaan ditunjukkan oleh :

Ø Fakta bahwa penilaian ini diperdebatkan dengan argumentasi obyektif.

Ø Kedua belah pihak sependapat bahwa hanya satu dari dua pendapat yang dapat betul (menunjukkan bahwa penilaian moral bersifat rasional dan obyektif).

Ø Fakta bahwa penilaian moral hanya dapat dibenarkan atau disangkal.

3. Penilaian moral berlaku umum berarti apa yang dalam suara hati saya sadari sebagai kewajiban saya, merupakan kewajiban bagi siapa saja yang berada dalam situasi yang sama dengan saya.

4. Suara hati mengklaim rasionalitas dan obyektivitas. Oleh karena itu, mempertanggungjawabkan suara hati berarti saya juga dapat menunjukkan bahwa pendapat saya itu masuk akal. Tidak perlu semua penilaian moral dibuktikan (lihat penjelasan no. 5). Yang perlu adalah keterbukaan pada tiap argumen, sangkalan, pertanyaan baik dari orang lain atau dari diri kita sendiri.

5. Perbedaan antara pendekatan rasional dan pendekatan rasionalistik:

Ø Pendekatan rasionalistik adalah ciri rasionalisme. Rasionalisme menuntut agar setiap pendapat, anggapan, sikap, harapan, penilaian, dan kepercayaan harus dapat dibuktikan kebenarannya sebelum kita menerimanya. Rasionalisme tidak mungkin karena mustahil kita mencari bukti dulu tiap kali mau percaya pada orang lain dan memutuskan sesuatu. Rasionalisme tidak perlu karena 2 alasan. Pertama, kita bukanlah manusia pertama dan kita tidak hidu sendiri. Tidak perlu kita memastikan semua hal sendiri. Kedua, rasionalitas lebih mendalam daripada sekadar akal yang kita pergunakan dalam pertimbangan konkret atau praktis sehari-hari.

Ø Pendekatan rasional adalah pendapat yang mengharuskan kita mempertanggungjawabkan langkah-langkah kita kalau memang ada alasan nyata yang membuat kita ragu-ragu. Pendekatan ini tidak menuntut agar tiap langkah kita pastikan keamanannya sebelum diambil.

ETIKA NORMATIF: ETIKA WAHYU & ETIKA PERATURAN

  1. Apa itu etika normatif?

Etika normatif itu bertanya ”menurut norma-norma manakah kita seharusnya mengambil sikap dan bertindak agar dapat dibenarkan secara moral?”

  1. Jelaskan ajaran dan kaidah etika wahyu!

Suatu tindakan adalah betul apabila sesuai dengan kehendak Allah; salah, apabila tidak sesuai; dan wajib apabila diperintahkan Allah.

  1. Mengapa adanya wahyu yang memuat petunjuk2 / peraturan2 moral tidak berarti bahwa etika normatif tidak perlu lagi? Jelaskanlah dua masalah pokok etika wahyu baik menyangkut isi normanya, maupun menyangkut rasionalitasnya!

(Jawabannya dijadikan satu)

Karena :

    1. Menyangkut isi norma: meskipun apa yang dianggap sebagai maksud Allah ditulis dengan jelas, namun kesimpulan mana yang ditarik daripadanya masih terbuka terhadap penafsiran.
    2. Menyangkut (i)rasionalitas norma wahyu: mendasarkan suatu pewajiban atau pelarangan tindakan hanya semata-mata pada tulisan di dalam wahyu, memuat irasionalisme, jika ”mengapa” pewajiban/pelarangan itu dibuat Allah tidak dijelaskan, hal mana berarti perlu dicari alasan mengapa Tuhan mewajibkan atau melarang sesuatu. Padahal sesuatu buruk bukan karena dilarang Tuhan, melainkan sesuatu dilarang Tuhan karena buruk.
    3. Ada bahaya relativisme moral: sebab jika suatu perbuatan itu buruk hanya saat Allah mewahyukannya, lalu bagaimana ”status moral” perbuatan itu sebelumnya, saat wahyu tadi belum turun?
    4. Selain itu, etika wahyu memuat pengandaian yang kiranya bersifat hipokrit: dengan menganggap bahwa orang lain yang tidak menerima wahyu itu tidak bisa benar-benar bermoral. Sebab nilai moral kan ada pada pernyataan Allah dalam wahyu-Nya, sehingga hanya orang yang menerima wahyu itu saja benar-benar bermoral.

  1. Apakah itu etika peraturan?

Etika peraturan : Etika yang melihat hakikat moralitas dalam ketaatan terhadap sejumlah peraturan, baik-buruknya tindakan ditentukan dari pelaksanaan aturan.

  1. Manakah keberatan paling utama terhadap etika peraturan?

(1) Etika peraturan merendahkan moralitas menjadi legalitas melulu, yang irasional sifatnya (Pokoknya asal taat aturan!), dan karenanya juga (2) menyingkirkan tanggungjawab pribadi (orang bersembunyi di balik peraturan), lalu (3) bahkan amoral sifatnya, yakni pada saat-saat di mana aturan sendiri dipakai untuk menginjak moral, mis: UU pemerintah Nazi Jerman saat PD II (Arianisasi) yang melegitimasikan kepemilikan orang Jerman atas perusahaan milik orang Yahudi.

ETIKA SITUASI DAN RELATIVISME MORAL KULTURAL

Etika situasi: adalah sebuah pendekatan dan teori dalam etika yang dipengaruhi oleh filsafat eksistensialisme dan personalisme di mana keunikan dan tanggung jawab tiap pribadi dan manusia sebagai person yang memiliki kebebasan menjadi tekanannya.

  1. Ajaran pokok atau kaidah etika situasi: Etika situasi menegaskan bahwa setiap manusia memang merupakan person yang unik, ia tujuan pada dirinya sendiri yang tidak pernah boleh dipukulratakan. Etika situasi mengakui martabat manusia sebagai person merupakan harkatnya. Dengan demikian betul salahnya suatu tindakan hanya diputuskan oleh yang bersangkutan dalam dan untuk situasi yang tertentu saja, tidak ada norma-norma moral umum, yang berlaku dimanapun, kapanpun dan terhadap siapapun.
  2. Sejauh mana etika situasi dapat disetujui sejauh mana tidak: Manusia tidak hanya unik tapi juga ikut berpartisipasi dalam kehidupan sosial dengan segala peraturan moral yang ada. Kelemahan etikia situasi adalah bahwa ia, sebagai reaksi terhadap etika peraturan yang melupakan tanggung jawab individual, jatuh ke dalam individualisme ekstrem yang hanya melihat keunikan tanggung jawab individual tetapi melupakan bahwa tanggung jawab itu baru menjadi nyata berhubungan dengan kedudukan kita dalam kesatuan kehidupan masyarakat.

Dengan demikian penolakan etika situasi terhadap norma-norma umum tidak rasional dan tidak masuk akal.

  1. Apa ajaran pokok relativisme moral dan relativisme moral kultural: Norma-norma moral yang berlaku dalam pelbagai masyarakat dan kebudayaan (karena itu disebut relativisme kultural) tidak sama, melainkan berbeda satu sama lain.
  2. Bagaimana relativisme moral dapat ditanggapi: Sebenarnya relativisme moral kultural itu sepi, karena dari fakta—yagn tidak dapat disangkal—bahwa pandangan moral kebudayaan-kebudayaan para bangsa sangat berbeda satu sama lain, tidak dapat ditarik kesimpulan bahwa semua pandangan ini sama baiknya. Kita dapat menyangkal relevansi relativisme kultural dengan argumen bahwa rupa-rupanya ada banyak masyarakat yagn norma-norma moralnya kurang memadai.
  3. Jelaskan :

· Norma moral konkret: norma yang memuat keharusan tindakan yang begitu terperinci, sehingga orang tahu tindakan apa yang dimaksud.

· Norma moral abstrak: norma yang mengharuskan suatu sikap yang dapat diwujudnyatakan dalam pelbagai tindakan (jadi belum pasti tindakan mana yang harus diambil berdasakan norma itu.

· Norma moral dasariah: norma yang mendasari keberlakuan moral norma-norma moral lain tetapi sendiri tidak lagi berdasarkan suatu norma moral lain. (Norma moral dasariah dengan sendirinya bersifat abstrak)

Bahwa ETIKA SITUASI mengajak kita agag tidak sekedar menjiplak norma-norma yang sudah ada untuk diterapkan begitu saja pada semua kasus, pantas diterima. Namun melawan etika situasi harus dipertahankan bahwa terhadap norma-norma umum ( sama seperti ada juga situasi ”umum”, tidak setiap situasi serba lain); norma-norma abstrak berlaku mutlak, sedangkan norma-norma umum konkret hanya berlaku sebagai patokan yang pada umumnya perlu diikuti. Meskipun demikian harus diakui bahwa norma-norma umum itu tidak pernah mencukupi utk memastikan bagaimana seseorang harus bertindak dalam situasi konret. Argumen yang sama bisa diterapkan juga melawan RELATIVISME MORAL KULTURAL yang melihat masalah moral sebagai masalah ”kebiasaan” faktual deskriptif saja, padahal dari das Sein (kenyataannya) tidak dengan sendirinya berarti das Sollen (yang seharusnya). Fakta bahwa ada korupsi yang sudah jadi kebiasaan, sama sekali tidak berarti bahwa orang seharusnya (artinya:boleh) berbuat korupsi

Eudemonisme (Etika Pengembangan Diri)

6. Apa yang dimaksud?

Ø Eudemonisme : eu=baik; demon=spirit. à Jiwa yang baik. Pandangan etika normatif yang menganggap kebahagiaan sebagai satu-satunya yang baik demi dirinya sendiri, yang harus diusahakan manusia.

Ø Eudaimonia : = Kebahagiaan à adalah keadaan dimana seluruh bakat, kemampuan, potensi dimensi manusia sudah berkembang penuh atau paripurna.

Ø Kaidah eudamonisme : Bertindaklah sedemkian rupa sehingga engkau mencapai kebahagiaan yang sebesar mungkin!

7. Bagaimana manusia bisa mencapai kebahagiaan, menurut Aristoteles?

Kalau mau mencapai kebahagiaan jangan cari kesenangan (kenikmatan) mengapa?

  1. karena tidak khas manusiawi, binatangpun melakukannya
  2. karena hanya mencari kesenangan adalah tanda ketidakdewasaan = anak kecil.

Kebahagiaan dicapai lewat dua cara:

  1. Theorea : Kegiatan merenungkan realitas secara mendalam. (pandangan).
  2. Praksis : keterlibatan dalam hidup berpolis. (tindakan).

8. Tanggapan tentang etika ini?

+ ] Mengatasi hedonisme dengan menekankan kepenuhan pelbagai kecakapan/dimensi yang plural

1. ] Kebahagiaan yang dicari-cari secara obsesif akan jatuh pada egoisme. Perspektif eudaimonisme masih berkutat pada kebahagiaan sendiri

2. ] Orang lain belum dianggap sebagai person yang merupakan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan hanya sarana pengembangan diri (untuk mencapai tujuan kebahagiaanku).

Kesimpulan:

Jadi persis salah kalau pengembangan diri kita jadikan sebagai tujuan kehidupan kita. Manusia justru tidak berkembang apabila pengembangan diri dijadikan obsesinya. Orang yang selalu mencari diri tidak akan menemukan diri, sedangkan orang yang melupakan diri demi tugas, tanggung jawab, orang lain, demi cita-citanya, dialah yang akan menemukan diri. Kadang kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita cari, melainkan given, yang justru kita dapat (datang begitu saja) ketika berhadapan dengan tanggung jawab.

Tulis sebuah Komentar

*
*