Lewati navigasi


Latar Belakang

Pertanyaan pertama yang muncul, “Mengapa memilih kata  ‘Tiongkok’ dari pada kata ‘Cina’? Jawabannya adalah Tiongkok merupakan lafal Hokian untuk Zhongguo, terdiri dari dua huruf yaitu: Zhong yang berarti ‘tengah’ dan Guo yang berarti ‘negara’.  Dalam arti bahasa Indonesia, Tiongkok berarti ‘Negara Tengah’. Kata ini pada mulanya dipakai untuk menunjuk Dinasti Zhou Barat, yang mereka anggap sebagai ‘pusat peradaban’. Jadi kata Tiongkok / Tionghoa lebih tepat digunakan karena menunjukkan bahwa di “wilayah tengah” itulah muncul salah satu pusat peradaban dan pemikiran yang tertua di dunia.

Keberlangusungan Filsafat Tionghoa tidak terlepas dari budaya agraris. Budaya agraris membuat Filsafat Tiongkok dekat dengan alam. Kedekatan dengan tanah dan kultur agraris membuat filsafat Tionghoa bersifat kokoh, kuat, mantap, dan abadi.

Pengaruhnya pada hubungan manusia dengan alam, dalam pandangan masyarakat Tionghoa,  manusia merupakan bagian dari alam yang tidak pernah meleburkan diri di dalamnya. Namun manusia perlu bersatu dengan penggerak alam. Konsep untuk berjalan seirama dengan penggerak alam inilah yang melahirkan dua aliran besar Daoisme dan Confusianisme.

Akan tetapi Konfusianisme dipandang lebih mendunia (relasi antar manusia), sedangkan Daoisme sering dianggap pandangannya melampaui dunia (bersatu dengan gerak alam). Di dalam alam ada tiga kekuatan: kekuatan bumi yang menumbuhkan, kekuatan langit yang memberi hidup dan kekuatan manusia yang mengaturnya. Akan tetapi kesamaan kedua paham itu  adalah baik Konfusianisme maupun Daoisme berangkat dari pengalaman sederhana dan jujur aspirasi dan inspirasi petani ( konsep budaya agraris tidak ditinggalkan)

Dalam masyarakat Tionghua yang kental akan budaya agraris, struktur masyarakat feodal menjadi penanda kuat dalam hidup bermasyarakat. Karena pengalaman akan tanah, dalam para filsuf Tionghua  lahirlah perbedaan antara akar (ben) yang menunjuk pada pertanian dan pucuk ( mo ) yang menunjuk pada perdagangan. Struktur sosial masyarakat  akhirnya terdiri dari; cendikia (pemilik tanah), petani (menggarap tanah), dan pedagang (lebih jauh dari pekerjaan yang berhubungan dengan tanah). Sistem keluarga Tionghoa merupakan sistem keluarga terunik, terumit, dan terbaik..

Masa Pra Sekolah Ru

Kehadiaran “Sekolah Ru” pertama-tama tidak terlepas dari masa Pembentukan Dinasti tahun 2205 SM. Komunitas-komunitas suku yang kehidupannya masih di dominasi mitos dan lagenda, mulai bergabung dan menantikan masa baru yaitu kelahiran kesatuan politis bernama dinasti. Dalam proses ini, Yao, Shun, dan Yu ( sebagai tokoh awal dalam pembentukan dinasti)  adalah pribadi-pribadi yang dianggap sebagai leluhur para konfusianis. Khusus mengenai Yu, pribadi ini terkenal karena kebijakannya dalam usaha mengatasi banjir. Jika ketiga tokoh tersebut dianggap sebagai para leluhur konfusianis, lain halnya dengan Raja Wu, Raja Wen. dan Pangeran Zhou. Ketiga tokoh yang hidup pada masa awal dinasti Zhou ini adalah para penguasa bijak yang menjadi panutan para Konfusianis. Pada masa ini feodalisme mencapai bentuk yang matang dalam feodalisme Zhou. Li menjadi unsur pemersatu dalam feodalisme itu (pemersatu antara penguasa, tuan tanah , dan rakyat).

Sekolah Ru

Rujia, adalah sebutan dalam bahasa Mandarin untuk “Sekolah Kaum Cendikia” (School of Literati). Kata ‘Ru’ () sendiri berarti ‘literatus’ atau ‘scholar’, dalam bahasa Indonesia dipakai istilah ‘cendikia’. Cendikia adalah guru-guru kebudayaan kuno dan merupakan para pewaris kebudayaan kuno. Mazhab ini suka mempelajari Liu Yi (Buku Klasik Yang Enam atau Ilmu Bebas Yang Enam) dan mencurahkah perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan rasa kemanusiaan dan rasa keadilan. Pada masa ini “Li” terlembagakan dalam sistem pemerintahan Zhou dengan Kaum Ru yangmenjadi elit pengemban Li.

Pada masa awal Dinasti Zhou istana-istana raja feodal (Raja di bawah Raja Tertinggi) selain berfungsi sebagai pusat ekonomi dan politik juga menjadi pusat pengetahuan. Istana menjadi tempat para cendikiawan yang memiliki spesialisasi tinggal dan mengajarkan keahliannya. Pada masa awal Dinasti Zhou tidak ada pemisahan antara pejabat dengan guru. Namun keadaan awal ini kemudian berubah pada abad ketujuh sampai ketiga SM. Cina mengalami periode transformasi dan perubahan besar dibidang sosial dan politik. Periode itu bukan hanya runtuhnya kekuatan dan politik Zhou tetapi juga merupakan keruntuhan sistem sosial yang menyeluruh pada 481 SM. Keruntuhan ini membuat cendikia-cendikia yang awalnya hidup di lingkungan istana menyebar ke masyarakat luas dan memperoleh nafkah penghidupan dengan mengajarkan keahliannya salah satunya seorang guru besar Kongzi.

a. Confusius

Confusius diambil dari nama Kong Qiu yang berasal dari Kaum Ru. Kaum Ru adalah orang-orang yang membaktikan diri pada musik dan ritual terutama untuk melayani ritual kaum aristokrat yang sudah ada sejak masa Shang. Awalnya Kongfuzi yang berarti “Tuan guru Kong”. Ia meninggal pada tahun 497 SM dan dimakamkan di Qufu. Sebagai catatan, memang Konfuisus adalah salah seorang tokoh utama aliran ini bahkan dengan tepat dianggap sebagai pendirinya. Namun kata ‘Ru’ tidak hanya menujuk ‘confusian’ atau ‘confusianist’ tetapi lebih luas dari itu. Dalam kosa kata Tionghoa tidak dikenal kata yang berarti Konfusius maupun Konfusianisme. Konfusianisme erat terkait dengan tradisi kaum Ru tersebut. Bahkan Konfusius adalah seorang Ru-Awal.

Masa kehidupan Kongzi adalah saat terjadi transformasi perubahan besar di bidang sosial dan politik. Kekacauan sedang melanda karena runtuhnya sistem masyarakat feodal Zhou. Kongzi ingin menghidupkan kembali ritual Zhou. Kongzi menemukan bahwa pada masa itu Li mengendor dan yang menyebabkan tatanan masyarakat hancur. Kongzi mengajarkan aturan emas: “Jangan perlakukan terhadap orang lain sebagaimana kamu sendiri tidak ingin diperlakukan oleh mereka”. Ajaran ini merupakan imperative demi Xiao(bakti). Xiao didasari dua prinsip untuk mengembangkan Ren (kemanusiaan) yakni; zhang “tenggang rasa” dalam dimensi pengembangan pribadi Ren dan Shu “altruisme” dalam dimensi pengembangan Ren orang lain. Dengan demikian Kongzi memberi dasar filosofis bagi Li yaitu Ren

Ren muncul dari Yi (kebenaran). Yi adalah kemampuan untuk mengenal apa yang benar dan Yi membentuk cara bertindak yang tepat agar sesuai dengan Ren. Li menjelmakan Ren. Li merupakan relasi tepat yakni perjumpaan antara intervensi langit dan persembahan manusia. Li juga mengandung makna praktis: sopan santun dan kepantasan, mengetahui tempat dalam tatanan masyarakat, hubungan sosial, serta kewajiban dan kedudukan sosial.  Awal hormat bakti yang lebih muda kepada yang lebih tua ini kemudian menjadi lima relasi utama; yakni: Kaisar-Menteri, ayah-anak, suami-istri, kakak-adik, teman-teman. Kongzi mencita-citakan masyarakat dengan Li yang kuat, agar dapat tercipta masyarakat seperti Zhou awal.

Da Xue : Pembelajaran menjadi Orang Besar

Ajaran Ru terarah pada upaya Ping Tian Xia. Da Xue merupakan buku sekolah Konfusianis bagi pemula untuk memasuki keutamaan. Buku ini menuntun supaya murid tidak tersesat. Cara untuk mengolah dan menempa diri adalah sang gang (tiga kerangka) dan ba mu (delapan lubang). San Gang terdiri dari; Zai Ming ming de (membersihkan daya-daya jernih manusia yang dibawa sejak lahir, Zai Qin Min (dekat/ mencintai rakyat jelata), dan Zai zhi yu zhi shan (berhenti pada puncak kebaikan).  Ben Mo terdiri dari Gewu (investigasi benda-benda), zhi zhi (pengetahuan segala sesuatu), cheng yi (ketulusan melihat), xin zheng (hati yang lurus), shen xiu (diri yang tertempa baik), jia qi (menyatukan keluarga), quo zhi (mengatur negara), dan Ping tian xia (damai di bumi).

Proses penempaan diri terjadi dalam gerak mencapai zhi san yaitu puncak kebajikan. Penempaan diri mengarah ke dalam dan setelah tertempa baik seorang Konfusianis akan mengarahkan diri ke luar (orang lain). Masing-masing figur memiliki puncak kebajikan. Raja puncak kebajikannya adalah kasih, menteri puncak kebajikannya adalah hormat, bapak puncak kebajikannya adalah peduli, anak puncak kebajikannya adalah bakti, dan sahabat puncak kebajikannya adalah percaya.

b Mengzi dan Xunzi

Mengzi hidup 371-289 SM, Mengzi menyempurnakan pandangan Kongzi tentang manusia. Kongzi berbicara banyak tentang Ren, Ji dan Li. Setiap manusia seharusnya tanpa memikirkan keuntungan pribadi seharusnya melakukan apa yang harus dilakukan, dan berperilaku seperti apa seharusnya berperilaku. Esensinya merupakan penerapan Ren untuk memperluas dirinya dan mencakup yang lain.  Kongzi berpegang pada doktrin ini namun belum bisa menjelaskan mengapa seorang manusia harus berperilaku menurut jalan ini. Mengzi memberikan pendasaran yang sangat kuat; kebaikan merupakan sifat dasar asli pada manusia.

Manusia memiliki empat permulaan untuk sempurna dan ini yang membedakannya dari binatang. Perasaan simpati adalah permulaan rasa kemanusiaan. Perasaan malu dan segan adalah awal dari kebajikan. Perasaan rendah hati dan kebersamaan adalah permulaan kesopanan. Pemahaman terhadap hal yang benar dan yang salah adalah permulaan kebijaksanaan. Dengan pemikiran seperti itu, Menzi di kenal sebagai sayap idealis mengarah  ke mistik. Dengan xing shan Mengzi memberi pijakan kokoh bagi dari ajaran Kongzi dan menegaskan ortodoksi Konfusianisme

Xun Zi 313- 238 SM ,dia adalah sayap realis yang terkenal dengan perkataan “MANUSIA PADA DASARNYA JAHAT” memang bisa disebut anti tesis dari Meng Zi yang mengatakan “MANUSIA PADA DASARNYA BAIK”. Xunzi sendiri menganggap dirinya adalah seorang konfusius  dan menganggap Meng zi itu konfusius yang menyimpang dari ajaran KongZi. Xun Zi termasuk seorang kritikus, bukan saja Meng Zi yang dikritik tapi gurunya  termasuk yang dikritik. Yang menarik dari pemikiran Xun Zi adalah pernyataannya mengenai penciptaan. Xun Zi beranggapan bahwa penciptaan itu tidak ada tapi melalui proses dan tiada pencipta. Xun Zi beranggapan jika ada pencipta yang masih memiliki perasaan , emosi , dan keinginan maka pencipta itu cacat dan tidak bisa disebut pencipta. “Manusia pada dasarnya jahat” tidak sekedar pengucapan begitu saja tapi melalui penelaahan dan perenungan yang mendalam. Bagi Xun Zi , manusia memiliki sifat mutlak yang kita sebut saja “RenXing. RenXing ini sederhana sekali dan kita tidak akan mengingkari bahwa kita memiliki RenXing itu. Manusia jika lapar akan mencari makanan, jika kedinginan akan mencari kehangatan, jika lelah akan berpikir untuk istirahat, selalu ingin mendapat keuntungan tidak ingin mendapat kerugian. Karena dasar RenXing inilah maka sosial masyarakat terbentuk. Manusia memiliki keinginan atau pengharapan, jika keinginan tidak terpenuhi maka akan ada keinginan mengejar pengharapan itu. Karena ada kejar mengejar pengharapan maka adanya pertengkaran dan peperangan. Karena adanya peperangan maka akan ada kemerosotan dalam segala bidang, disitulah akan lahir orang bijak yang akan menata kembali kondisi sosial masyarakat. Karena adanya RenXing itu maka diperlukan suatu aturan agar manusia bisa terkontrol dalam tindakan ingin memuaskan dirinya. Dan aturan itu bisa mencegah peperangan merebut sumber daya alam.

Tinjuan Atas Pemikiran

Tidaklah mudah untuk memberikan tinjuan kritis atas pemikiran – pemikiran dan perkembangan tradisi dalam filsafat Tionghua di atas. Setidaknya ada dua yang dapat dikemukakan. Pertama, tinjauan atas usaha rekonstruksi yang dilakukan konfusian. Dalam basis pengalaman kulturalnya dan refleksi historisnya, Konfusius melihat adanya nilai yang menekankan kembali  tradisi liKonfusius juga menekankan soal  eksistensi dan kekuatan ren, kekuatan dari transformasi moral atas individu manusia dalam relasinya dan transaksi dengan yang lainnya. Ren dalam filsafat Konfusius berarti kualitas yang menegaskan kemanusiaan yang mempunyai kekuatan untuk  mengembangkan kemanusiaan dari pusat seorang individu ke sebuah komunitas melalui hubungan manusia yang tertata dengan baik dan atas pertemanan yang harmonis. Kedua, yang menarik dicermati adalah kemampuan mereka untuk menancapkan pengaruhnya pada generasinya dan generasi sesudahnya dalam sebuah cara yang alami dan spontan. Tidak ada manuver politik dalam mempengaruhi masyarakat. Pengaruh tersebut muncul melalui jalur sosial dan kultural seperti: mengajar, lecturing dan percakapan atau dialog dalam sebuah lingkungan intelektual ataupun yang berbasiskan akademis. Sesuatau yang berbeda dari penyebaran pemiiran tradisi barat.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.