Lewati navigasi


Sandel berpendapat bahwa pembicaran mengenai yang adil  tidak hanya menjawab pertanyaan bagaimana seorang Individu menyenangkan individu yang lain, tetapi juga tentang bagaimana hukum itu seharusnya, dan bagaimana masyarakat itu diorganisir. Dalam buku Sandel “Justice : What the Right Thing To Do?” untuk menjelaskan mengenai yang adil , Sandel menggunakan tiga pendekatan yang menunjukkan juga tiga jalan berbeda jika kita berpikir tentang keadilan. Tiga jalan atau pendekatan itu adalah kesejahteraan, kebebasan, dan keutamaan.

a. Kesejahteraan

Ide dasar dari pendekatan kesejahteraan adalah penciptaan kesejahteraan masyarakat. Sandel mengungkapkan bahwa ide ini muncul sebagai tanggapan atas pelbagai perdebatan bagaiamana mewudujdkan kemakmuran, meningkatkan standar hidup, memacu pertumbuhan ekonomi. Untuk mengeksplorasi ide ini, Sandel akan membicarakan tentang utilitarianism. Ungkapan yang terkenal dari paham ini adalah the greatest goods /happiness for the greatest numbers. Dalam Utilitarianism , nilai moral suatu tindakan ditentukan oleh utilitas/kegunaan dalammemberikan kebahagiaan atau kesenangan pada sebanyak mungkin orang. Jadi,seseorang, sebuah negara  akan berusaha melakukan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan banyak dampak positif bagi banyak orang dan menghindari dampak buruk bagi banyak orang. Jika kita berpikir tenatnga kesejahteraan dalam paham ini, maka yang dipromosikan adalah kesejahteraan demi banyak orang.

b. Kebebasan

Sandel mengemukakan bahwa pendekatan ini adalah sebagai reaksi atas pendekatan kesejahteraan. Pendekatan kesejahteraan mempunyai celah yaitu mematikan hak-hak individu terutama minoritas serta akan ada masalah  dalam hubungannya dengan pluraitas.

Dalam pendekatan kebebasan ini, berbicara mengenai keadilan berhubungan dengan kebebasan terutama penghargaan/penghormatan akan hak-hak individu. Akan tetapi ada dua kubu yang berargumen sengit mengenai sejauh mana hak-hak individu dan kebebasan ini digunakan untuk mewujudkan keadilan. Pertama adalah kelompok laissez-faire (biarkan terjadi/berbuat) . Kelompok ini adalah para libertarian pasar bebas yang melawan intervensi pemerintah dalam perdagangan. Mereka mempercayai bahwa keadilan terdiri dari penghormatan dan penghargaan pilihan-pilihan sukarela yang dibuat oleh orang-orang dewasa. Dengan bahasa lain, biarlah kita yang menentukan sendiri. Kedua adalah kubu fairness (keadilan). Kubu ini lebih cenderung pada para egalitarian. Mereka berpendapat bahwa pasar yang terkekang ( bebas ) tidaklah adil maupun bebas. Hal ini karena keadilan mencakup pelbagai kebijakan yang memperbaiki ketidakuntungan sosial dan ekonomi serta memberikan setiap orang kesempatan yang adil untuk sukses.

c. Keutamaan

Menurut Sandel, pembicaraan mengenai teori-teori keutamaan ( dan hidup yang baik )  dalam hubungannya dengan keadilan dalam politik saat ini  sering diidentifikasikan dengan budaya konservatif dan kebenaran agama. Bagi masyarakat liberal, penggunaan moralitas adalah sebuah anathema / kutukan ( dianggap sesuatu yang buruk/jahat)  karena mengandung resiko akan ketidaktoleransian dan kekerasan. Banyak orang berpegangan pula bahwa pemerintah seharusnya netral dari segala hal yangberhubungan dengan keutamaan dan keburukan.  Pemerintah  tidak seharusnya mengatur dan mengolah tindakan-tindakan yang baik dan menyingkirkan yang buruk. Akan tetapi tidak dapat disangkal pula menurut Sandel gagasan mengenai masyarakat yang adil yang mengafirmasi keutamaan-keutamaan tertentu dan konsepsi-konsepsi mengenai hidup yang baik  telah menginspirasi pergerakan dan argumentasi politik lintas warna ideologi.

Ketiga pendekatan tersebut yaitu kesejahteraan, kebebasan, dan keutamaan oleh Sandel akan dihadapkan pada rumusan masalah dalam bukunya Justice : What the Right To Do. Rumusan Masalah tersebut adalah Dapatkah kita beragumentasi dengan cara kita melalui daerah perebutan antara  yang adil dan yang  tidak adil, setara dan tidak setara, hak individu dan kebaikan bersama?

Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, Sandel menggunakan metode mengangkat sebuah peristiwa atau masalah konkret yang kemudian menjadi dilemma lalu ditatapkan dengan teori keadilan beberapa filusuf. Bagaimana peristiwa itu diangkat hingga sampai pada masalah filosofis sebagai berikut:

1.  Sandel akan berangkat dari sebuah pengakuan , pendapat tentang hal benar yang dilakukan.

2. Sandel lalu ( mengajak kita ) merefleksikan  alasan argumentasi  pengakuan tersebut, lalu mencari prinsip yang mendasarinya.

3. Lalu Sandel  mengkonfrontasikan dengan situasi yang mengacaukan prinsip itu sehingga menjadi bingung. Perasaan kekuatan yang membingungkan dan tekanan untuk memisah-misahkan kebingunan itu , menurut Sandel adalah gerak ke filsafat.

Dengan singkat kata, Sandel mengawali dengan refleksi moral lebih dahulu lalu bergerak ke filsafat. Sandel memasukan argument tentang keadilan yang mewarnai politik saat ini, tidak hanya di antara para filusuf tetapi juga pada orang biasa dimana kita dapat menumukan gambaran yang lebih rumit. Tentang bagaimana argumentasi itu diolah kemudian, bagi Sandel, filsafat politik menyarankan kepada kita untuk menjelaskan dengan tepat dan memberikan alasan  pendirian moral dan politik kita. Pendirian moral ini  tidak hanya diantara kerabat dekat tapi juga warga masyarakat. Jadi dalam buku Sandel ini, Beliau tidak menjelaskan sejarah ide-ide tentang keadilan.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.