Lewati navigasi


I.A.  Nilai Luar dan Objektivitas ( Sebuah Ringkasan )[1]

Helen Logino mengatakan bahwa nilai-luar para peneliti dan komunitas sering secara dalam berpengaruh pada kesimpulan-kesimpulannya dapat dapat digambarkan secara sah dari data. Dia mengklaim hal ini karena kesimpulan-kesimpulan yang dibenarkan dari data ke hal-hal yang masuk akal sebuah teori tertentu hanya mungkin jika menambahkan asumsi-asumsi yang melatarbelakangi ke data , dan komitment nilai-nilai luar dapat menetukan secara sah asumsi-asumsi latar belakangi. Pusat argumen Longino untuk klaim-klaim seperti ini:  jika  para ilmuawan menunjukkan sebuah teori tertentu atas dasar data, mereka harus mennerima asumsi-asumsi latar belakang yang membenarkan kesimpulan-kesimpulan dari data ke teori tersebut. Jika seorang ilmuawan menerima secara radikal asumsi-asumsi latar belakang yang berbeda, sebuah teori yang berbeda seharusnya dibenarkan. Dalam pemilihan diantara beragamnya asumsi-asumsi latar belakang, ilmuawan dapat dan melakukan secara sah untuk memilih pada dasar komitmen nila-nilai luar mereka. Oleh karenanya , komitment-komitmen nilai eksternal dapat  menentukan apakah para ilmuwan dibenarkan dalam pegangannya pada sebuah teori terteetntu.

Pendapat Longino ini serupa dengan Barnes dan Bloor. Sekilas perbedan yang paling mencolok adalah mereka menekankan pengaruh ketertarikan dari pada nilai-nilai dalam penetuan apakah kesimpulan-kesimpulan dari data ke teori diterima.  Perbedaan yang penting adalah Longino tidak memegang bahwa para ilmuawan harus menggunakan asumsi-asumsi latar belakang dimana dibenarkan oleh komitment nilai-nilai luar, karena dia mengakui bahwa mereka dapat menggunakan induksi atau beberapa ketentuan untuk membenarkan teori tertentu pada dasar data. Dia mengakui nilai-nilai luar atau faktor-faktor sosial luar tidak dibutuhkan menentukan asumsi-asumsi latar belakang dalam argumen-argumen yang tepat. Tetapi dia berpendapat sekalipun jika para ilmuawan menggunakan argumen induktif, mereka akan membutuhkan untuk penggunaaan prinsip umum dari induksi sebagai sebuah asumsi-asumsi latar dan sebuah prinsip ini mungkin salah.  Jadi, dengan pemikiranya apakah asumsi-asumsi latar ditentukan oleh komitment nilai atau tidak, asumsi-asumsi mereka tetatplah secar potensial problematis.

Ada dua nilai yang menjadi bagian penting dalam sains: nilai konstitutif dan kontekstual. Nilai konstitutif adalah norma-norma dimana dihasilkan dari tujuan-tujuan penyelidikan ilmiah. Sebuah tujuan penting sains mencari kemungkinan penjelasan terbaik atas fenomena alam. Dalam pencarian mereka, para ilmuawan harus menggunakan kriteria untuk mengevaluasi kebenaran relatif atau mutlak dari pelbagai teori, sebagai ukuran bahwa sebuah teori yang menghasilkan prediksi-prediksi baru yang sukses harus lebih dipilih ke sebuah persangingan/pertentangan  yang mana tidak menghasilkan sebuah prediksi baru yang sukses. Tak satupun setuju bahwa ilmuwan dipengaruhi oleh nilai-nilai konstitutif.

Sains juga dipengaruhi oleh nilai-nilai kontekstual( sama dengan ekternal values). Seperti nilai bahwa pria dan wanita harus sejajar. Dua jalan nilai ini mempengaruhi pada sains. Nilai kontekstual dapat mempengaruhi otonomi sains dan integritas sains. Sains adalah otonom pada artian bahwa arah penelitian bekerja tanpa gangguan oleh nilai-nilai dan ketertarikan-ketertarikan konteks soasial dan budayanya. Sementara sains mempunyai integritas dalam artian bahwa praktek sains internal seperti mengumpulkan data dan penarikan kesimpulan tidak ditentukan oleh nilai kontekstual.

Akhirnya tesis pokok Longino mengatakan bahwa nilai kontekstual dapat menetukan dengan sah asumsi-asumsi latar belakang dimana para ilmuwan menggunakan untuk menarik kesimpulan, penelitian tidak membutuhkan, sering tidak mempunyai integritas.

Longino menjelaskan perhitungannya dengan menunjukkan bagaimana nilai kontekstual dapat menetukan bahkan asumsi-asumsi paling mendasar sains yang mungkin kita berpikir hanya dipengaruhi oleh nilai konstitutif. Dia mengatakan bahwa argumen atas hasil( kemenangan) teori-teori mekanistis fenomena seperti mekanika newton atas lawan-lawan  non mekanik  bukanlah bahwa temuan mereka lebih dekat ke kebenaran atau lebih memadai secara empiris daripada lawannya, tetapi mereka memfasilitasi eksploitasi alam. Dia menerima bahwa mekanika newton lebih kuat sebagai sebuah alat untuk memanipulasi dunia dalam cara tertentu daripada lawannya. Tetapi dia berpendapat bahwa fakta beberapa teori mekanistik memiliki alat kuasa yang lebih dari pada lawannya yang tidak memiliki kuasa sebuah pendapat menentukan atas superioritas ilmiah mereka tampa menambahkan asumsi-asumsi latar belakang yang diberikan oleh nilai kontekstual.

Ciri-ciri kunci yang membuat teori mekanika lebih aktraktif/menarik daripada lawannya, bahwa teori itu mengisyaratkan benda adalah substansi mati yang tak berdaya yang aktivitasnya tergambar dalam rumusan matematika. Ciri-ciri ini memampukan teori mekanistik memebenarkan model-model interaksi dengan dunia alamiah seperti pertambangan sehingga orang termampukan untuk mengontrol aspek-aspek tertentu lebih baik dari pada teori lawan seperti Vitalist. Secara keselurahan gambaran mekanik alam cocok dengan nilai-nilai dan kebutuhan-kebutuhan orang-orang ahli ( teknik) dan pemunculan kelas kapitalis .

Nilai-nilai kontekstual yang membawa pada penerimaan gambaran mekanistik secara bertahap merubah nilai kostitutif dan asumsi-asumsi pendirian sains. Akhirnya nilai-nilai konstitutif sains kuat secara intrumental dan asumsi-asumsi pendirian sains bahwa segala sesuatu terdiri dari unsur-unsur material tak berdaya/mati. ( ini mau menunjukkan bagaimana nilai kontekstual dapat dengan mudah menentukan nilai konstitutif dan asumsi-asumsi pendirian sains. )

Jika pendapat Longino dan tesis  pokoknya adalah benar, penemuan-penemuan ilmiah tidak dapat objektif. Jika benar, pilihan asumsi-asumsi latar belakang dan karena itu pilihan teori-teori yang dibenarkan, harus bergantung pada prasangka-prasangka individu dan komunitas. Akan tetapi, Longino berpendapat bahwa pandangannya hanya menyatakan tidak langsung bahwa para ilmuawan tidak dapat menghasilkan secara objektif  pernyataan-pernyataan yang benar dalam pengertian, mereka tidak dapat mengambil pernyataan-pernyataan yang adalah benar lewat asumsi-asumsi latarbelakang yang problematis. Sains tidak dapat secara rasional mengarahkan untuk memeberi kita kebenarannya yang sebenarnya. Sains dapat menjadi objektif karena pengaruh pilihan subjektif idiosyncratic asumsi-asumsi latar belakang dapat dikurangi atau dihilangkan. Ada 4 kondisi  bagi komunitas ilmuawan untuk menghasilkan metode yang objektif:

  1. Ada jalan-jalan yang dikenali untuk melakukan kritik terhadap metode, bukti, asumsi, dan penalaran yang dilakukan.
  2. Ada suatu standar yang diterima dan dipakai bersama yang dapat dirujuk oleh para pengeritik.
  3. Komunitas secara keseluruhan selalu terbuka dan tanggap terhadap kritik
  4. Otoritas intelektual secara sederajat dimiliki bersama diantara para praktisi yang berkualifikasi.

Sebagai seorang feminis, perhatian Longino tertuju pada persoalan kesetaraan gender dan kelompok-kelompok yang tersubordinatkan. Dia berpandangan bahwa untuk menjadi setara, pilihan-pilhan yang diambil harus pada basis keseinangan dan keberhargaan atas teori-teori yang berdasar tindakan kolektif/bersama untuk menyelesaikan persoalan bersama.

I.B. Kritik Untuk Longino

Sebagian besar pendapat longino bersandar pada klaim bahwa kita tidak dapat menggunakan alasan induktif untuk mendukung program penelitian tertentu tanpa pengantar secara potensial asumsi-asumsi latar belakang tentang daya meyakinkan tipe-tipe pengargumen induktif. Perahlan asumsi-asumsi latar belakang dan hubungannya dengan komitmen nilai-nilai eksternal, tanggapan dia atas metode induktif dan relevansi data ke teori terdapat beberapa kesalahan. Tiga  kekeliruan dasar pikiran Longino:

1. Sebagai seseorang yang masuk akal, cukuplah berpikir bahwa bagian-bagian tertentu argumen induktif adalah kuat tanpa memiliki sebuah perhitungan umum mengapa mereka kuat atau sebuah karakterisasi formal argumen induktif. Kita hanya mengasumsi-asumsikan bahwa sebuah bagian tertentu argumen induktif yang kita gunakan adalah kuat secara sah dapat mengggunakan induksi.

2. Kita tidak perlu menunjukkan bahwa data adalah relevan untuk sebuah teori secara objektif untuk membenarkan bahwa teori dengan pemberian argumen secara induktif dari data ke teori.Yang diperlukan adalah jika data benar, teori secara kemungkinan besar akan benar.

3. Kita dapat mendapatkan pembenaran dengan baik atas praktek induktif dengan peninjaun kembali. ( pembebaran yang baik atas praktek induktif dapat kita dapatkan dengan peninjauan kembali )

Kesalahan dalam praktek induktif tidak menjadi argumen untuk berpikir bahwa sebagian besar praktek induksi secara radikal salah. Argumen induktif yang canggih yang digunakan dalam sains tidak problematik dalam pengertian tidaklah seluruhnya membawa  kita pada kesimpulan yang salah dari premis-premis yang benar.

Tujuan sains adalah untuk memperoleh kebenaran tentang dunia atau jika kita menggunakan sains sebagai alat  untik memperoleh  teori yang sangat kuat secara prediksi tepat. Jika itu tujuannya , kita dibenarkan dalam penggunaan argumen induktif dari pada komitmen  nilai eksternal untuk mendukung atau mengkritik program penelitian tertentu pada basis data. Argumen induktif sangat mungkin sekali membantu kita mencapai tujuan kita.

Dua tanggapan Longino atas kritik di atas adalah pertama, tidak dapat dipertanggungjawabkan secara epistemiologi memilih sebuah program yang bekerja baik sebagai sebuah instrumen untuk prediksi karena bekerja ( baca : working) bukanlah gagasan epistemik. Untuk sebuah teori yang memprediksi fakta baru, kita harus menggunakan nilai-nilai kita. Kedua, ada banyak kasus/kejadian dalam program-program penelitian yang bersaing secara kasar menyamakan pada basis fakta-fakta induktif. Dalam kasus tersebut, komitment nilai kitalah untuk memutuskan program mana yang harus digunakan sebagai basis untuk tindakan.

Berdasarkan atas tanggapan Longino ada beberapa tanggapan. Pertama, keberatan itu disalahmengerti untuk dua argumen.  Jika penulis benar bahwa dalam pemikiran bahwa  teori yang memprediksi sebuah fakta-fakta baru kemungkinan besar kira-kira menjadi benar, maka  “working”  dalam pengertian kekuatan memprediksi adalah gagasan epistemik. Jika mau berinteraksi dengan dunia secara menyeluruh, kita punya argumen yang baik/memadai, untuk memilih sebuah program yang berguna untuk pemrediksian fakta-fakta baru sebuah sebuah basis tindakan tidak ada keinginnan untuk merampas/merusak alam. Sekalipun jika tujuan utama adalah melindungi dunia alamiah dari kerusakan, para ilmuwan akan mengetahui apa segala konsekuensi kegiatan untuk mencegah  kemungkinan besar menghasilkan tindakan dalam cara-cara tertentu yang  berbahaya.

Tanggapan kedua Longino memiliki  beberapa hal yang masuk akal.  Dimana dua program  didukung secara garis besar dan sama dengan bukti-bukti, kami dapat konsisten dengan tujuan sains, menggunakan nilai-nilai kita untuk memutuskan program mana menyetujui untuk berhubungan dengan dunia. Singkat kata, jika salah satu program mempunyai dampak buruk untuk kelompok tertentu, bisa digunakan program lawannya. Sangatlah terbuka bagi seseorang  menggunakan komitmen nilai yang berbeda untuk memilih program yang ada. Selain itu, jika program lawannya secara garis besar sama dalam dukungan empiris mereka ( yang menggunakan) menikmati, bukti yang ada kemudian mungkin dapat menunjukkan bahwa program yag satu jauh lebih baik dari lawannya.

Sebagai sebuah kesatuan fakta, selalu ada secara khas sebuah pilihan diantara pelbagai program penelitian yang berbeda yang memadai , sekalipun kita mengerti ketercukupan itu mencakup kemampuan untuk memprediksi fakta baru. Penggunaan kriteria secara murni nilai-nilai konstitutif sains tidak membolehkan/memberikan kita memutuskan antara program-program penelitian, sebuah pilihan dapat secara sah dibuat pada basis komitmen nilai eksternal.

I. C.  Permasalahan Argumen Longino Berkaitan denngan Sejarah.

  1. Pendapat Longino dari sejarah berlawan asas ( paradoks) kerena mengandung masalah logis yang penting terutama penambahan asumsi-asumsi latar belakang yang problematik dalam data seperti bias anti wanita. Tidaklah jelas mengapa para peneliti dengan nilai kontekstual dan asumsi-asumsi metafisis yang berbeda dari Longino harus menerima klaim-klaim sejarahnya.
  2. Argumen Longino dari sejarah tidak masuk akal. Banyak klaim-klaim sejarahnya problematis. Pertama, cukup menyesatkan mengklaim bahwa program penelitian yang lain pada abad tujuhbelas dan delapan belas adalah secara empiris sebagai mekanik Newtonian. Program yang lain dapat pula mengklaim secara sama dan empiris memadai bahkan dalam arti pembuktian prediksi-prediksi yang benar. Kedua, mengenai klaim perhitungan mekanis yang tidak disukai karena mensahkan dan memfasilitasi eksploitasi alam, adalah tidak masuk akal untuk beberapa argumen. a. Perilaku tradisional masyarakat eropa terhadap eksploitasi alam untuk keuntungan manusia. Secara luas diterima pandangan binatang dan tetumbuhan ditakuti oleh masyarakat modern Eropa (bukankah ini yang juga menyebankan eksploitasi?). Oleh karena itu, perhitungan mekanis alam dibutuhkan untuk membenarkan-mensahkan eksploitasi alam. b. Penguraian pandangan mekanis atas aspek alam, secara khas tidak menyingkirkan penjelasan vitalist dari perhitungan mereka atas dunia.   Vitalism secara sempurna cocok dengan pandangan wanita, binatang dan tumbuhan adalah inferior  untuk memberi peradaban pada laki-laki dan mereka digunakan seturut tujuan mereka yang tepat. Tidak ada asalan yang masuk akal mengapa vitalism harus tidak dugunakan untuk mengeksploitasi alam. d. tidak tampaklah bahwa mekanik Newtonian digunakan secara khusus banyak industri. Tidak masuk akallah pula berpendapat bahwa mekanik Newtonian secara luas diterima karena digunakan banyak industry.

I.D. Perhitungan Longino atas Objektivitas tidak memadai.

Longino berpendapat bahwa penemuan ilmiah untuk menjadi objektif perlu sampai pada komunitas ilmuwan. Longino dianggap gagal untuk menunjukkan bahwa komunitas peneliti yang dia gambarkan sebagai ideal sampai  pada teori-teori yang mana disahkan/dibenarkan secara objektif. Tidak ada keterangan dia memberikan argumen atas klaim bahwa anggota komunitas yang dia gambarkan sebagian besar setuju pada teori-teori sekiranya benar atau yang memprediksi fakta  baru. Komunitas peneliti yang diidealkan Longino adalah sebuah sebuah komunitas yang datang untuk sebuah persetujuan intersubjektif dalam cara tertentu. Oleh kerena itu tidak ada argumen epistemologi yang baik mengapa seseorang harus menyesuaikan diri untuk keputusannya.

Selain itu kondisi bahwa program-program penelitian harus cukup secara empiris dipertanyakan. Beberapa teori dapat dibuat cukup secara empiris dan dibuat memiliki kekuatan prediksi, dengan sederhana menambahkan pelbagai ad hoc hipotesis sampai sebuah fakta problematis dijelaskan.

Akan tetapi longino dapat secara masuk akal berpendapat bahwa sebuah komunitas lebih baik secara epistemologis dengan komunitas lain karena sebagian besar menerima teori-teori yang dekat dengan kebenaran dan kuat secara prediksi.

Pemodifikasian Barwell atas Objektivitas

Barwell sependapat dengan Longino bahwa asumsi-asumsi latar belakang dipengaruhi oleh nilai kontekstual dan ketertarikan kelompok yang mereka miliki dimana seringkali para ilmuwan tidak menyadarinya. Akan tetapi subuah komunitas ilmuwan yang memiliki latar belakang yang sama semisal gendernya sama, juga ketertarikan dan nilai social yang serupa dapat terbutakan oleh prasangka ideologi mereka sendiri.

Teori Titik Pijak Harding seorang Feminis.

Komunitas para peneliti dapat menjadi secara kuat objektif ketika seluruh asumsi-asumsi latar belakang, agenda budaya, dan pengaruh-pengaruhnya yang menentukan pengumpulan data dan kesimpulan,dibuat tanpak dan kekuatan mereka dikanali/diakui dalam komunitas ( strong reflexivity ) . Catatan Harding ini beberapa kali disebut epistemologi titik pijak. ( standpoint epistemology). Penyebutan ini karena pengumpulan data-data, teori-teori yang dihasilkan, dan kesimpulan yang digambarkan, secara dalam dipengaruhi oleh ketertarikan, nilai dan pengalaman kelompok-kelompok sosial yang mendominasi masyarakat yang juga secara dalam dipengaruhi oleh titik pijak tertentu.

Ada beberapa argumen dari pandangan Harding:

  1. Para peneliti yang berbicara dari luar titik pijak laki-laki kulit putih, golongan menengah atau kelas atas yang telah didomnasi dalam tradisi seperti membongkar data yang penting yang telang hilang untuk melihat karena mereka teralami sebagian besar oleh anggota-anggota kelompok yang tertindas.
  2. Orang yang berbicara dari luar titik pijak arus utama memiliki ketertarikan dalam menyingkap pendapat-pendapat yang menyimpang yang mungkin merusak kelompok sosial yang mereka bicarakan.
  3. Orang yang berbicara dari luar titik pijak arus utama akan menghasilkan teori yang terbangun dari sebuah setelan berbeda metafora dan analogi dari yang secara khas dalam sains dan juga membuktikan teori-teori lawan yang bernilai dimana memberikan kita untuk mengerti dunia dalam sebuah cara yeng berbeda.

Diskusi Kritis atas Pandangan Barwell dan Harding

Sama halnya dengan Longino, pembelaan Harding atas objektivitas yang kuat  memiliki permasalahan. Pertama, pendapat Harding jauh dari kejelasan bahwa perkenalan titik pijak yang lain dan pemberian mereka otoritas atas isu-isu tertentu adalah cara untuk menerima perhitungan objektif yang lebih atas dunia.  Kita lebih baik merestrukturisasi komunitas ilmuwan sehingga teori-teori menjadi lebih teliti-tepat dan diuji secara cermat, dari pada pencakupan titik pijak dari yang kelompok-kelompok tertindas dalam komunitas ilmuwan.  Kedua, mengenai pengaruh prasangka ideologis peneliti, teori-teori fisik tidak melulu abstrak mengkalkulasi perlengkapan-perlengkapan tapi mempunyai pokok isi untuk mengacu pada  kesatuan yang nyata seperti kekuatan dan massa, hubungan teori-teori ke pengertian-pengertian ideologi dunia adalah lemah.

Beberapa hal yang bisa diterima, kerja sejarah menunjukkan seklipun setiap pengamatan yang cermat, eksperimen dan teori kadangkala secara taksadar tersesatkan oleh ideologi yang dominan dan kesalahan para peneliti tidak seluruhnya diperhatikan komunitas ilmuwan dalam kelompok social dengan ketertarikan umum yang dominan.  Sekalipun pada interpretasi konservatif,sejarah biologi mengandung banyak contoh para peneliti yang kompeten yang bekerja terusak, seringkali tanpa sadar oleh prasangka sex dan rasis.

II. Tanggapan Pribadi atas Kritik Longino

Tanggapan pribadi atas kritik Longino diatas menekankan pada objektivitas dan metode sains dari individu ke kelompok.

Relativisme dan Kebenaran Objektivitas

Longino berpendapat bahwa perhitungan sosiologis keliru tidak membeda-bedakan antara pengetahuan dan pendapat. Pengetahuan runtuh ke dalam apa yang diyakini atau apa yang diterima karena terlalu peduli dengan menemukan kriteria yang mengatur pilihan ilmiah … bukan kriteria yang seharusnya untuk memerintah mereka[2]. Terlepas dari kenyataan bahwa Longino menerima pengetahuan tradisional/opini dikotomi, konsepsi pengetahuan berbeda secara signifikan dari konsep-konsep tradisional. Dia berpendapat bahwa pengetahuan adalah hasil dari interaksi antara orang-orang yang dimediasi oleh proses-proses sosial yang tepat.[3] Proses tersebut memungkinkan kita untuk mengubah subjektif ke tujuan. Pandangan ini  mengarah pada pengetahuan “kritik transformatif. yang memungkinkan konsensus untuk memenuhi syarat sebagai pengetahuan: forum-forum publik kritik; serapan terhadap kritik; standar dikenal publik, dan, kesetaraan otoritas intelektual[4]. Longino berpendapat bahwa sepanjang interaksi antara orang-orang memenuhi kondisi ini prosedural, hasil dari pertanyaan kita layak disebut pengetahuan. Begitu pula ketika asumsi-asumsi latar belakang yang memainkan peran mediasi dalam penalaran tidak mencerminkan preferensi subjektif, metode  komunitas yang seobjektif pun  mungkin. Dengan demikian. Longino tidak mengurangi kebenaran untuk beberapa bentuk penerimaan. Dia bahkan tidak mengenali kebenaran sebagai akhir penyelidikan.            Hubungan antara kebenaran dan pengetahuan, serta  peran kebenaran dalam penyelidikan. Longino berpnadangan bahwa pengetahuan dapat didefinisikan dalam cara yang tidak memerlukan referensi untuk kebenaran. Kendala utama pengetahuan adalah bahwa pengetahuan menjadi konsep normatif, dan dengan demikian akan dibedakan dari kepercayaan belaka.  pengetahuan harus diperluas untuk mencakup perwakilan yang memadai secara empiris sebagian dunia alam untuk terhindar dari nafsu mengeksploitasi alam. Kkebenaran tidak hanya akhir penyelidikan, namun hanya salah satu dari banyak tujuan. Dia berpendapat bahwa para ilmuwan digerakkan oleh paling tidak dua jenis berbeda dari tujuan, dan bahwa ada ketegangan antara misi memperluas pengetahuan dan misi pencarian kebenaran sains.

Longino tidak mungkin untuk menghilangkan efek faktor sosial terhadap pengambilan keputusan. Tapi tidak menyatakan bahwa kita harus berusaha untuk menghilangkan efek mereka. Mengingat peran bahwa beberapa faktor-faktor sosial, seperti asumsi-asumsi latar belakang, bermain di penalaran ilmiah, kita tidak bisa mengharapkan untuk menghilangkan efek dari semua faktor-faktor sosial. Dampak dari preferensilah subjektif yang seharusnya dihilangkan. Karena Longino membedakan antara (1) faktor-faktor sosial yang memungkinkan kritik transformatif dan (2) hanya preferensi subjektif.

Penyebutan epistemologi Longino sebagai epistemologi feminis tidaklah tepat (karna epistemologi tidak mengenal gender, bukan?) tetapi sebagai salah satu upaya untuk menampilkan sisi yang menjadi perhatian yang itu kesetraan gender dan marginalisasi manusia, kata feminis pun tidak salah digunakan. Hal yang kurang lebih sama bisa ditujukan perihal anggapan relativisme pemikiran Longino. Sebebenarnya Longino menekankan pada pengetahuan tradisional/perbedaan pendapat, tapi mengusulkan bahwa kita membedakan pengetahuan dari pendapat dengan mengacu pada standar sosial. Standar sosial inilah yang harus menjadi perhatian untuk mencegah dampak dari reltivism. Jika ada standard tidak apakah masih ada kemungkinan relativism?

Individu ke Intersubjecktif

Epistemologi secara tradisional ditafsirkan pengetahuan menjadi jenis khusus hubungan antara agen mengetahui dan objek pengetahuan.epistemologi tersebut digambarkan sebagai individualistis karena mereka fokus pada agen individu dan hubungannya dengan dunia. Longino merekomendasikan bahwa epistemologists mengalihkan perhatian mereka dari hubungan antara proses yang menengahi interaksi kita dengan orang lain. Pengetahuan adalah hasil dari berbagai interaksi sosial yang sesuai. Ketika pengetahuan menjadi intersubjektif  maka absolutisme dalam pengetahuan dapat dihindari dengan kemungkinan pelbagai diskursus yang terjadi, efek yang lebih luas dari pemikiran Longino ini adalah adanya masyarakt yang saling menjaga dan melestarikan. Tidaklah berarti bahwa keindividualan kita kan hilang atau sifat otonom peneliti akan hilang. Ciri-ciri itu tetaplah ada dalam relasi intersubjektif.

Daftar Pustaka

Couvalis , George. The Philosophy of Science: Science and Objectivity. London : Sage Publications, 1997.

Longino, Helen E.. Science as Social Knowledge: Values and Objectivity in Scientific Inquiry. Princeton: Princeton University Press. 1990

_____________. The Fate of Knowledge in Social Theories of Science. in Frederic Schmitt, editor. Socializing Epistemology: Rowman & Littlefield. 1994


[1] Couvalis , George. The Philosophy of Science: Science and Objectivity. London : Sage Publications, 1997.  pg 141-171

[2] Helen Longino 1994 hlm. 137-138

[3] Ibid. 144

[4] Helen Longino 1990 hlm. 76

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.