Skip navigation


Sandel berpendapat bahwa pembicaran mengenai yang adil  tidak hanya menjawab pertanyaan bagaimana seorang Individu menyenangkan individu yang lain, tetapi juga tentang bagaimana hukum itu seharusnya, dan bagaimana masyarakat itu diorganisir. Dalam buku Sandel “Justice : What the Right Thing To Do?” untuk menjelaskan mengenai yang adil , Sandel menggunakan tiga pendekatan yang menunjukkan juga tiga jalan berbeda jika kita berpikir tentang keadilan. Tiga jalan atau pendekatan itu adalah kesejahteraan, kebebasan, dan keutamaan.

a. Kesejahteraan

Ide dasar dari pendekatan kesejahteraan adalah penciptaan kesejahteraan masyarakat. Sandel mengungkapkan bahwa ide ini muncul sebagai tanggapan atas pelbagai perdebatan bagaiamana mewudujdkan kemakmuran, meningkatkan standar hidup, memacu pertumbuhan ekonomi. Untuk mengeksplorasi ide ini, Sandel akan membicarakan tentang utilitarianism. Ungkapan yang terkenal dari paham ini adalah the greatest goods /happiness for the greatest numbers. Dalam Utilitarianism , nilai moral suatu tindakan ditentukan oleh utilitas/kegunaan dalammemberikan kebahagiaan atau kesenangan pada sebanyak mungkin orang. Jadi,seseorang, sebuah negara  akan berusaha melakukan perbuatan-perbuatan yang menimbulkan banyak dampak positif bagi banyak orang dan menghindari dampak buruk bagi banyak orang. Jika kita berpikir tenatnga kesejahteraan dalam paham ini, maka yang dipromosikan adalah kesejahteraan demi banyak orang.

b. Kebebasan

Sandel mengemukakan bahwa pendekatan ini adalah sebagai reaksi atas pendekatan kesejahteraan. Pendekatan kesejahteraan mempunyai celah yaitu mematikan hak-hak individu terutama minoritas serta akan ada masalah  dalam hubungannya dengan pluraitas.

Dalam pendekatan kebebasan ini, berbicara mengenai keadilan berhubungan dengan kebebasan terutama penghargaan/penghormatan akan hak-hak individu. Akan tetapi ada dua kubu yang berargumen sengit mengenai sejauh mana hak-hak individu dan kebebasan ini digunakan untuk mewujudkan keadilan. Pertama adalah kelompok laissez-faire (biarkan terjadi/berbuat) . Kelompok ini adalah para libertarian pasar bebas yang melawan intervensi pemerintah dalam perdagangan. Mereka mempercayai bahwa keadilan terdiri dari penghormatan dan penghargaan pilihan-pilihan sukarela yang dibuat oleh orang-orang dewasa. Dengan bahasa lain, biarlah kita yang menentukan sendiri. Kedua adalah kubu fairness (keadilan). Kubu ini lebih cenderung pada para egalitarian. Mereka berpendapat bahwa pasar yang terkekang ( bebas ) tidaklah adil maupun bebas. Hal ini karena keadilan mencakup pelbagai kebijakan yang memperbaiki ketidakuntungan sosial dan ekonomi serta memberikan setiap orang kesempatan yang adil untuk sukses.

c. Keutamaan

Menurut Sandel, pembicaraan mengenai teori-teori keutamaan ( dan hidup yang baik )  dalam hubungannya dengan keadilan dalam politik saat ini  sering diidentifikasikan dengan budaya konservatif dan kebenaran agama. Bagi masyarakat liberal, penggunaan moralitas adalah sebuah anathema / kutukan ( dianggap sesuatu yang buruk/jahat)  karena mengandung resiko akan ketidaktoleransian dan kekerasan. Banyak orang berpegangan pula bahwa pemerintah seharusnya netral dari segala hal yangberhubungan dengan keutamaan dan keburukan.  Pemerintah  tidak seharusnya mengatur dan mengolah tindakan-tindakan yang baik dan menyingkirkan yang buruk. Akan tetapi tidak dapat disangkal pula menurut Sandel gagasan mengenai masyarakat yang adil yang mengafirmasi keutamaan-keutamaan tertentu dan konsepsi-konsepsi mengenai hidup yang baik  telah menginspirasi pergerakan dan argumentasi politik lintas warna ideologi.

Ketiga pendekatan tersebut yaitu kesejahteraan, kebebasan, dan keutamaan oleh Sandel akan dihadapkan pada rumusan masalah dalam bukunya Justice : What the Right To Do. Rumusan Masalah tersebut adalah Dapatkah kita beragumentasi dengan cara kita melalui daerah perebutan antara  yang adil dan yang  tidak adil, setara dan tidak setara, hak individu dan kebaikan bersama?

Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, Sandel menggunakan metode mengangkat sebuah peristiwa atau masalah konkret yang kemudian menjadi dilemma lalu ditatapkan dengan teori keadilan beberapa filusuf. Bagaimana peristiwa itu diangkat hingga sampai pada masalah filosofis sebagai berikut:

1.  Sandel akan berangkat dari sebuah pengakuan , pendapat tentang hal benar yang dilakukan.

2. Sandel lalu ( mengajak kita ) merefleksikan  alasan argumentasi  pengakuan tersebut, lalu mencari prinsip yang mendasarinya.

3. Lalu Sandel  mengkonfrontasikan dengan situasi yang mengacaukan prinsip itu sehingga menjadi bingung. Perasaan kekuatan yang membingungkan dan tekanan untuk memisah-misahkan kebingunan itu , menurut Sandel adalah gerak ke filsafat.

Dengan singkat kata, Sandel mengawali dengan refleksi moral lebih dahulu lalu bergerak ke filsafat. Sandel memasukan argument tentang keadilan yang mewarnai politik saat ini, tidak hanya di antara para filusuf tetapi juga pada orang biasa dimana kita dapat menumukan gambaran yang lebih rumit. Tentang bagaimana argumentasi itu diolah kemudian, bagi Sandel, filsafat politik menyarankan kepada kita untuk menjelaskan dengan tepat dan memberikan alasan  pendirian moral dan politik kita. Pendirian moral ini  tidak hanya diantara kerabat dekat tapi juga warga masyarakat. Jadi dalam buku Sandel ini, Beliau tidak menjelaskan sejarah ide-ide tentang keadilan.

Tiga Elemen Kebebasan dalam Dialektika Kesusilaan Hegel

“ yang legal ( das Rechtliche ) dan yang moral ( das Moralische ) tidak bisa bagi diri mereka sendiri, dan mereka harus memiliki yang susila ( das Sittliche )sebagai pengemban dan dasar, karena hukum tak memiliki momen subyektivitas yang dimiliki moral, dan dengan demikian kedua momen itu bagi diri mereka sendiri tidak memiliki kenyataan. Hanyalah yang tak terbatas , ide itulah yang nyata : Hukum ada hanya sebagai cabang dari keseluruhan, sebagai tanaman rambat dari sebuah pohon yang kuat pada dan bagi dirinya sendiri.” ( G.W. Hegel  dan Negara Susila  paragraf 15 )

Kaitan pemikiran Hegel dengan Kant

Kant merumuskan bahwa tidak ada hal lain secara mutlak kecuali ”kehendak baik”. Kehendak baik ini terwujud dalam pelaksanaan kewajiban. Dalam tindakan ini, manusia melaksanakannya tanpa pamrih. Dalam pelaksaaan kewajiban ini ada dua macam yang pertama adalah legalitat yaitu tindakan yang sesuai dengan kewajiban atau disebut dengan hukum, sedangkan yang kedua adalah moralitat yaitu tindakan yang dilakukan demi kewajiban atau disebut dengan moral. Dalam pemikiran Kant, Hukum dimengerti dengan sifat universal dan tidak mengijinkan kekecualian dan  sebuah tindakan moral yang luhur adalah tindakan yang dilakukan demi kewajiban pada dirinya sendiri.

Kaitan antara pemikiran Kant dengan Hegel ialah Hegel mengikuti pemikiran Kant perihal yang legal dan yang hukum dengan membedakannya secara tajam tetapi sekaligus mengkritik paham Kant  dalam pembedaan yang hukum dan yang legal itu sebagai abstrak. MENGAPA???

Mengingat Hegel sebagai Idealis

Dalam hidup sehari-sehari kata ”konkret” menunjuk pada hal-hal atau realitas yang bisa dilihat dan dipegang, semisal kursi. Sedangkan kata abstrak menunjuk kepada sesuatu yang tidak bisa diindra, suatu paham umum, atau hasil proses akal budi atas realitas yang khusus.Dalam pemahaman atau pengertian hHegel yang abstrak dan yang konkret tidaklah seperti dalam hidup sehari-hari. Bagi Hegel, yang abstrak yang diperoleh lewat pengindraan, keterkaitan pelbagai hal yang bisa diamati. Dengan demikian, yang konkret adalah keterkaitan pelbagai hal yg diamati, didapatkan melalui pemikiran. Pemahaman yang konkret dan yang abstrak ini tidak lepas dari pahah idealis yang diikuti Hegel yaitu pandanganyang menyatakan yang nyata hanyalah idea-idea bukan materi. Dengan demikian sebuah catatan dalam tulisan ini adalah, jika Hegel menulis atau menyebut yang abstrak, yang abstrak yang dimaksud Hegel adalah hal konkret dalam hidup keseharian, begitu juga dengan yang konkret.

Tiga Elemen Kebebasan

Bagi Hegel yang mengutarakan bahwa arah perkembangan sejarah adalah menuju perkembangan sejarah menyeluruh , menunjukkan bahwa kebebaan manusia tidak hanya berkisar seputar otonomi batin melainkan juga pada  seluruh struktur sosial tempat tempat manusia berada. Dengan demikian  tiga hal yangterkait dengan kebebasan ini adalah Hukum, Moral dan Tatanan Moralitas Sosial.

a. ’yang legal’ = Hukum

Hukum adalah pengakuan terhadap kehendak dan kebebasan individu. Contoh paling khas dalam hukum adalah hak milik. Benda yang dimiliki seseorang diakui dan dijamin. Menjadi hak milik berarti bahwa seseorang meletakkan kehendaknya dalam benda itu. Namun juga ada kewajiban tuk menghormati orang lain sebagai individu, sebagai subjek hukum yang bebas.

Namun pengakuan Hukum atas kebebasan individu semata-mata bersifat formal. Hukum mengabstrasikan semua kekhususan tiap-tiap individu. Tujuan subjektif , tidak relevan. Sedangkan kehendak, maksud, kepentingan kesejahteraan, dan hal lainnya  yang sangat berarti bagi individu sebagai subjek ( bukan objek hukum), sangat diabaikan. Atau hukum tidak memperhatikan kekhasan persona masing. ( Hukum hanya memiliki ketentuan-ketentuan negatif  bahwa kepribadian dan ketentuan yang terkait dengannya tidak boleh dilanggar). Sebagai contoh adalah kasus Nenek Minah ( ”Nenek Minah Tak Curi Cokelat!” dalam Kompas, 15 Februari 2010). Dalam kasus nenek minah yang dituduh mencuri kakao, aparat penegak hukum memandang Nenek Minah bersalah karena mengambil kakau di lahan perkebunan yang tidak menjadi/dimiliki Nenek Minah. Alasan mengapa dan untuk apa kakao itu diambil serta latar belakang kehidupan Nenek Minah tidak menjadi bahan pertimbangan dalam proses hukum yang dilakukan aparat.

Hukum adalah bentuk pertama kebebasan yang menjamin wilayah disekitar manusia tidak boleh dicampuri oleh manusia lain dimana kita karenanya dapat bergerak bebas. Tapi kebebasan itu lahiriah dan abstrak karena hanya sekadar sebuah ruang LUAR. Sedangkan bagaimana ruang kebebasan itu dipakai dan maknaya secara individudual tidak dikatakan. Untuk mencapai kebebasan yang lebih nyata, manusia harus memberikan penegasan pada hukum dengan mengembangkan moralitas. Maka Hukum dalam pandangan Hegel dinyatakan masih abstrak.

Hukum itu kebenaran  ( masih biji, perlu proses menjadi pohon ) tapi bukan seluruh kebenaran. Di sini dimaksudkan , kebenaran bukanlah paham statis , melainkan suatu pengertian dinamis, suatu proses menjadi. Hukum adalah bagian dari keseluruhan.

b. ’yang moral’ =Moral

Moral adalah wilayah kehendak subjektif  yang bertahan secara otonom berhadapan dengan dunia luar. Maksud-maksud subjektif diperhatikan. Nilai manusia ditentukan dari tindakan batiniah. Dengan demikian, titik tolak moral merupakan kebebasan yang berada bagi dirinya sendiri. (Titik pandang moralitas adalah titik pandang otonomi subjek.)

Pengalaman otonomi subjek ini terungkap dalam suara hati. Dalam suara hati kebebasan menjadi milik kita secara pribadi. Jadi kebebasan ini adalah batiniah dan subjektif, bukan dalam arti kurang nyata, melainkan sebaliknya dalam arti sangat nyata bahwa itulah kebebasan yang sepenuhnya diiisi oleh subjek. Suara hati adalah ruang otonomi hakiki subjek yang tidak bisa dimasuki dari luar. Jika dalam hukum, seseorang dinilai dari hasil perbuatannya dalam kesesuaian dengan hukum, maka pada moralitas, kualitas manusia ditentukan dari tekad batinnya , dari suara hatinya.

Akan tetapi sekalipun lebih konkret dari HUKUM, selama moralitas tinggal semata-mata dalam dimensi batin dan tidak mengacu pada realitas struktur-struktur dunia luar yang sosial, moralitas masih tetap abstrak. Jika dalam etika Kant cukup mengatakan ”ikutilah suara hatimu!!” dalam Hegel tidak lah cukup dengan mengatakan ”ikutilah suara hatimu”! Karena suara hati  masih memerlukan orientasi melalui struktur-struktur atatu tatanan sosial.  

c.’yang susila’ ( das Sittleche ) = Tatanan Moralitas Sosial

Tatanan moralitas sosial maksudnya adalah kita bersama-sama dengan komunitas mengejawantahkan moral tertentu atau menghayati moral tertentu bersama. Tatanan moralitas sosial pun bisa dilihat sebagai sudut pandang individu sebagai anggota komunitas  atas kewajiban-kewajiban dan norma-norma moral yang juga merupakan hasil refleksi makhluk rasional individu sebagai makhluk sosial. Dimana kehendak khusus individu? Kehendak khusus ketika bertemu dengan tatanan moralitas sosial menyatu dengan kehendak umum. Boleh dikatakan bahwa dalam tatanan moralitas sosial ini seorang individu dengan kehendak yang dimilikinya  besama dengan individu-individu lain bertemu, mengalami penyatuan dalam kehendak umum.

Apa yang disebut dengan tatanan moralitas ini adalah struktur atau tatanan sosial masyarakat sejauh merupakan pranata yang mewujudkan nilai-nilai moral ( keadilan, kejujuran, dan lain-lain yang juga bisa dipandang sebagai kehendak umum) sehingga mampu mendukung dan mengarahkan individu dalam kehidupan moralnya (Ethical life). Tatanan ini  ditentukan oleh tiga pranata hidup manusia: keluarga, masyarakat, negara dimana tiga lembaga ini menentukan bagaiamana individu harus bertindak apabila mau dianggap bermoral ( kewajiban moral). Umumnnya manusia akan bertindak moral jika berorientasi pada norma-norma kehidupan yang ada pada lingkungannya. Disini individu harus bertindak sebagai makhluk moral. Hal ini membawa implikasi bahwa wilayah kebebasan subjektif tidak dapat dimasuki oleh negara. Undang-undang negara tidaklah mungkin menyangkut maksud batin.

Implikasi yang lain adalah individu-individu jika mau berbuat sesuatu tidak lagi melalui pertimbangan-pertimbangan mendasar tentang kewajibannya tetapi cukup dikonfirmasi dalam berbuat menurut tuntutan lingkungannya yang sudah diandaikan terstrukturasi sebagai perealisasi kebebasan. Dengan demikian individu mencapai kebebasan secara penuh.

( Bagan dialektika Hegel perihal dialektika kesusilaan)

Belajar dari Kasus Nenek Minah

Pada suatu hari di bulan Agustus 2009 seorang nenek tua dari Dusun Sidoharjo, Kecamatan Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, memanen kedelai di lahan garapannya. Berbatasan dengan sebuah kebun cokelat milik PT Rumpun Sari Antan, si nenek bernama Minah itu melihat pohon-pohon cokelat yang banyak berbuah. Ia memetik tiga buah cokelat yang ada di kebun itu, lalu meletakkannya di tempat. Tak ada maksud padanya untuk menyembunyikannya dan tidak pula ada maksud di benaknya untuk membawanya pergi.

Perbuatan si nenek diketahui mandor kebun. Ditanyai mandor, ia mengaku bahwa dialah yang memetik karena menginginkan bibitnya. Mandor mengingatkan si nenek, perbuatan seperti itu bisa dianggap mencuri. Nenek Minah minta maaf dan membiarkan buah kakao yang dipetiknya itu ”disita” mandor. (Kompas, 15 Februari 2010)

Apakah Nenek Minah melanggar hukum?  Menurut Hegel, suatu pelanggaran hukum terjadi apabila ada kehendak khusus (sebagai kehendak persona yang mengambil bentuk umum)  yang terjadi melawan bentuk hukum.   Apakah Nenek Minah Melanggar Hukum? Sepintas , ya! Akan tetapi pelanggaran Nenek Minah ini masih masuk kategori pelanggaran polos ( selain pelanggaran polos, ada juga pelanggran penipuan dan kriminal) yaitu berpendapat memiliki suatu hak yang sebenarnya tidak dimilikinya. Nenek Minah masuk kategori ini karena ketika Nenek mengambil kakao, dia meletakkan di tempat, tidak menyembunyikannya, kemudian ketika diberitahu perbuatannya adalah mencuri , nenek Minah minta maaf. Jaditindakan kriminal ”mencuri” belum benar-benar ada.  Kejadian berikutnya bahwa Nenek Minah diajukan ke pengadilan tanpa didampingi pengacara semakin menjadi tidak relevan. Dengan perkataan Nenek Minah yang meminta maaf, sudah tidak ada lagi ungkapan pemaksaan kehendak khusus terhadap kehendak umum. Yang berati sanksi paksaan sudah tidak diperlukan lagi karena Nenek Minah sudah mengkonfimasi diri lagi dengan  kehendak umum yang berlaku. Perihal Nenek Minah dibawa ke sidang tapa pengacara, jika dilihat dalam perspektif Hegel. Tindakan ini sangat bertentangan dengan martabat manusia karena tidak perlu lagi dibawa ke pelanggran kriminal. Dalam Hegel, hukum yang bersifat balas dendam  (saja)  sudah melawan martabat manusia.

Bagaimana dengan moral? Nenek Minah tidak tahu kalau memetik kakao 3 biji kakao adalah mencuri ( jika mencuri tentu kakao kan disembunyikan, tidak diletakkan begitu saja.). Ini saja sudah tidakbisa dikatakan salah. Berangkat dari prinsip otonomi, Hegel mengemukakan  bahwa kebersalahan moral tidak terjadi karena ketidaksesuaian tindakan seseorang dengan norma-norma dalam masyarakat tetapi ia menolak tuntutan moral yang diakuinya sendiri sebagai kewajiban. Tindakan Nenek Minah yang meminta maaf dalam keadaan bebas menunjukkan penerimaan tuntutan moral yang diakui sebagai kewajiban, dengan kata lain Nenek Minah tidak bersalah secara moral.

Jika kasus Nenek Minah ini ditatapkan ke tatanan moralitas sosial, apa yang dialami Nenek Minah dengan ketidakadilannya, akhirnya bersama individu-individu yang lain menyatukan diri dalam kehendak umum perihal ide  keadilan yang harus dilaksakan oleh aparat negara sesuai dengan amanah konstitusi .

Daftar Pustaka :

Copleston, Frederick. A History of Philosophy. Volume VII Fichte to Nietzsche. London: Search Press, 1962, hlm. 205-218.

Cullen, Bernard. Hegel’s Social and Political Thought: An Introduction. Dublin: Gill and Macmillan, 1979.

Hardiman, Budi. Filsafat Politik. Membangung Pemikiran Politis Melalui Interpretasi Karya-Karya Klasik. Jakarta: STF Driyarkara, 2007

______________ Filsafat Modern. Dari Macchiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia, 2007, hlm. 191-192.

Magnis –Suseno, Franz. ” Pijar-pijar Filsafat”. Yogyakarta : Kanisius. 2005,

hlm 86-105

Peperzak, Adriaan. Philosophy and Politics a Commentary of Preface to Hegel’s Philosphy of Right. Boston : Martinus Nijhoff Publishers. 1987

Wignjosoebroto, Soetandyo. “Nenek Minah Tak Curi Cokelat!” dalam

Kompas, 15 Februari 2010.


Latar Belakang

Pertanyaan pertama yang muncul, “Mengapa memilih kata  ‘Tiongkok’ dari pada kata ‘Cina’? Jawabannya adalah Tiongkok merupakan lafal Hokian untuk Zhongguo, terdiri dari dua huruf yaitu: Zhong yang berarti ‘tengah’ dan Guo yang berarti ‘negara’.  Dalam arti bahasa Indonesia, Tiongkok berarti ‘Negara Tengah’. Kata ini pada mulanya dipakai untuk menunjuk Dinasti Zhou Barat, yang mereka anggap sebagai ‘pusat peradaban’. Jadi kata Tiongkok / Tionghoa lebih tepat digunakan karena menunjukkan bahwa di “wilayah tengah” itulah muncul salah satu pusat peradaban dan pemikiran yang tertua di dunia.

Keberlangusungan Filsafat Tionghoa tidak terlepas dari budaya agraris. Budaya agraris membuat Filsafat Tiongkok dekat dengan alam. Kedekatan dengan tanah dan kultur agraris membuat filsafat Tionghoa bersifat kokoh, kuat, mantap, dan abadi.

Pengaruhnya pada hubungan manusia dengan alam, dalam pandangan masyarakat Tionghoa,  manusia merupakan bagian dari alam yang tidak pernah meleburkan diri di dalamnya. Namun manusia perlu bersatu dengan penggerak alam. Konsep untuk berjalan seirama dengan penggerak alam inilah yang melahirkan dua aliran besar Daoisme dan Confusianisme.

Akan tetapi Konfusianisme dipandang lebih mendunia (relasi antar manusia), sedangkan Daoisme sering dianggap pandangannya melampaui dunia (bersatu dengan gerak alam). Di dalam alam ada tiga kekuatan: kekuatan bumi yang menumbuhkan, kekuatan langit yang memberi hidup dan kekuatan manusia yang mengaturnya. Akan tetapi kesamaan kedua paham itu  adalah baik Konfusianisme maupun Daoisme berangkat dari pengalaman sederhana dan jujur aspirasi dan inspirasi petani ( konsep budaya agraris tidak ditinggalkan)

Dalam masyarakat Tionghua yang kental akan budaya agraris, struktur masyarakat feodal menjadi penanda kuat dalam hidup bermasyarakat. Karena pengalaman akan tanah, dalam para filsuf Tionghua  lahirlah perbedaan antara akar (ben) yang menunjuk pada pertanian dan pucuk ( mo ) yang menunjuk pada perdagangan. Struktur sosial masyarakat  akhirnya terdiri dari; cendikia (pemilik tanah), petani (menggarap tanah), dan pedagang (lebih jauh dari pekerjaan yang berhubungan dengan tanah). Sistem keluarga Tionghoa merupakan sistem keluarga terunik, terumit, dan terbaik..

Masa Pra Sekolah Ru

Kehadiaran “Sekolah Ru” pertama-tama tidak terlepas dari masa Pembentukan Dinasti tahun 2205 SM. Komunitas-komunitas suku yang kehidupannya masih di dominasi mitos dan lagenda, mulai bergabung dan menantikan masa baru yaitu kelahiran kesatuan politis bernama dinasti. Dalam proses ini, Yao, Shun, dan Yu ( sebagai tokoh awal dalam pembentukan dinasti)  adalah pribadi-pribadi yang dianggap sebagai leluhur para konfusianis. Khusus mengenai Yu, pribadi ini terkenal karena kebijakannya dalam usaha mengatasi banjir. Jika ketiga tokoh tersebut dianggap sebagai para leluhur konfusianis, lain halnya dengan Raja Wu, Raja Wen. dan Pangeran Zhou. Ketiga tokoh yang hidup pada masa awal dinasti Zhou ini adalah para penguasa bijak yang menjadi panutan para Konfusianis. Pada masa ini feodalisme mencapai bentuk yang matang dalam feodalisme Zhou. Li menjadi unsur pemersatu dalam feodalisme itu (pemersatu antara penguasa, tuan tanah , dan rakyat).

Sekolah Ru

Rujia, adalah sebutan dalam bahasa Mandarin untuk “Sekolah Kaum Cendikia” (School of Literati). Kata ‘Ru’ () sendiri berarti ‘literatus’ atau ‘scholar’, dalam bahasa Indonesia dipakai istilah ‘cendikia’. Cendikia adalah guru-guru kebudayaan kuno dan merupakan para pewaris kebudayaan kuno. Mazhab ini suka mempelajari Liu Yi (Buku Klasik Yang Enam atau Ilmu Bebas Yang Enam) dan mencurahkah perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan rasa kemanusiaan dan rasa keadilan. Pada masa ini “Li” terlembagakan dalam sistem pemerintahan Zhou dengan Kaum Ru yangmenjadi elit pengemban Li.

Pada masa awal Dinasti Zhou istana-istana raja feodal (Raja di bawah Raja Tertinggi) selain berfungsi sebagai pusat ekonomi dan politik juga menjadi pusat pengetahuan. Istana menjadi tempat para cendikiawan yang memiliki spesialisasi tinggal dan mengajarkan keahliannya. Pada masa awal Dinasti Zhou tidak ada pemisahan antara pejabat dengan guru. Namun keadaan awal ini kemudian berubah pada abad ketujuh sampai ketiga SM. Cina mengalami periode transformasi dan perubahan besar dibidang sosial dan politik. Periode itu bukan hanya runtuhnya kekuatan dan politik Zhou tetapi juga merupakan keruntuhan sistem sosial yang menyeluruh pada 481 SM. Keruntuhan ini membuat cendikia-cendikia yang awalnya hidup di lingkungan istana menyebar ke masyarakat luas dan memperoleh nafkah penghidupan dengan mengajarkan keahliannya salah satunya seorang guru besar Kongzi.

a. Confusius

Confusius diambil dari nama Kong Qiu yang berasal dari Kaum Ru. Kaum Ru adalah orang-orang yang membaktikan diri pada musik dan ritual terutama untuk melayani ritual kaum aristokrat yang sudah ada sejak masa Shang. Awalnya Kongfuzi yang berarti “Tuan guru Kong”. Ia meninggal pada tahun 497 SM dan dimakamkan di Qufu. Sebagai catatan, memang Konfuisus adalah salah seorang tokoh utama aliran ini bahkan dengan tepat dianggap sebagai pendirinya. Namun kata ‘Ru’ tidak hanya menujuk ‘confusian’ atau ‘confusianist’ tetapi lebih luas dari itu. Dalam kosa kata Tionghoa tidak dikenal kata yang berarti Konfusius maupun Konfusianisme. Konfusianisme erat terkait dengan tradisi kaum Ru tersebut. Bahkan Konfusius adalah seorang Ru-Awal.

Masa kehidupan Kongzi adalah saat terjadi transformasi perubahan besar di bidang sosial dan politik. Kekacauan sedang melanda karena runtuhnya sistem masyarakat feodal Zhou. Kongzi ingin menghidupkan kembali ritual Zhou. Kongzi menemukan bahwa pada masa itu Li mengendor dan yang menyebabkan tatanan masyarakat hancur. Kongzi mengajarkan aturan emas: “Jangan perlakukan terhadap orang lain sebagaimana kamu sendiri tidak ingin diperlakukan oleh mereka”. Ajaran ini merupakan imperative demi Xiao(bakti). Xiao didasari dua prinsip untuk mengembangkan Ren (kemanusiaan) yakni; zhang “tenggang rasa” dalam dimensi pengembangan pribadi Ren dan Shu “altruisme” dalam dimensi pengembangan Ren orang lain. Dengan demikian Kongzi memberi dasar filosofis bagi Li yaitu Ren

Ren muncul dari Yi (kebenaran). Yi adalah kemampuan untuk mengenal apa yang benar dan Yi membentuk cara bertindak yang tepat agar sesuai dengan Ren. Li menjelmakan Ren. Li merupakan relasi tepat yakni perjumpaan antara intervensi langit dan persembahan manusia. Li juga mengandung makna praktis: sopan santun dan kepantasan, mengetahui tempat dalam tatanan masyarakat, hubungan sosial, serta kewajiban dan kedudukan sosial.  Awal hormat bakti yang lebih muda kepada yang lebih tua ini kemudian menjadi lima relasi utama; yakni: Kaisar-Menteri, ayah-anak, suami-istri, kakak-adik, teman-teman. Kongzi mencita-citakan masyarakat dengan Li yang kuat, agar dapat tercipta masyarakat seperti Zhou awal.

Da Xue : Pembelajaran menjadi Orang Besar

Ajaran Ru terarah pada upaya Ping Tian Xia. Da Xue merupakan buku sekolah Konfusianis bagi pemula untuk memasuki keutamaan. Buku ini menuntun supaya murid tidak tersesat. Cara untuk mengolah dan menempa diri adalah sang gang (tiga kerangka) dan ba mu (delapan lubang). San Gang terdiri dari; Zai Ming ming de (membersihkan daya-daya jernih manusia yang dibawa sejak lahir, Zai Qin Min (dekat/ mencintai rakyat jelata), dan Zai zhi yu zhi shan (berhenti pada puncak kebaikan).  Ben Mo terdiri dari Gewu (investigasi benda-benda), zhi zhi (pengetahuan segala sesuatu), cheng yi (ketulusan melihat), xin zheng (hati yang lurus), shen xiu (diri yang tertempa baik), jia qi (menyatukan keluarga), quo zhi (mengatur negara), dan Ping tian xia (damai di bumi).

Proses penempaan diri terjadi dalam gerak mencapai zhi san yaitu puncak kebajikan. Penempaan diri mengarah ke dalam dan setelah tertempa baik seorang Konfusianis akan mengarahkan diri ke luar (orang lain). Masing-masing figur memiliki puncak kebajikan. Raja puncak kebajikannya adalah kasih, menteri puncak kebajikannya adalah hormat, bapak puncak kebajikannya adalah peduli, anak puncak kebajikannya adalah bakti, dan sahabat puncak kebajikannya adalah percaya.

b Mengzi dan Xunzi

Mengzi hidup 371-289 SM, Mengzi menyempurnakan pandangan Kongzi tentang manusia. Kongzi berbicara banyak tentang Ren, Ji dan Li. Setiap manusia seharusnya tanpa memikirkan keuntungan pribadi seharusnya melakukan apa yang harus dilakukan, dan berperilaku seperti apa seharusnya berperilaku. Esensinya merupakan penerapan Ren untuk memperluas dirinya dan mencakup yang lain.  Kongzi berpegang pada doktrin ini namun belum bisa menjelaskan mengapa seorang manusia harus berperilaku menurut jalan ini. Mengzi memberikan pendasaran yang sangat kuat; kebaikan merupakan sifat dasar asli pada manusia.

Manusia memiliki empat permulaan untuk sempurna dan ini yang membedakannya dari binatang. Perasaan simpati adalah permulaan rasa kemanusiaan. Perasaan malu dan segan adalah awal dari kebajikan. Perasaan rendah hati dan kebersamaan adalah permulaan kesopanan. Pemahaman terhadap hal yang benar dan yang salah adalah permulaan kebijaksanaan. Dengan pemikiran seperti itu, Menzi di kenal sebagai sayap idealis mengarah  ke mistik. Dengan xing shan Mengzi memberi pijakan kokoh bagi dari ajaran Kongzi dan menegaskan ortodoksi Konfusianisme

Xun Zi 313- 238 SM ,dia adalah sayap realis yang terkenal dengan perkataan “MANUSIA PADA DASARNYA JAHAT” memang bisa disebut anti tesis dari Meng Zi yang mengatakan “MANUSIA PADA DASARNYA BAIK”. Xunzi sendiri menganggap dirinya adalah seorang konfusius  dan menganggap Meng zi itu konfusius yang menyimpang dari ajaran KongZi. Xun Zi termasuk seorang kritikus, bukan saja Meng Zi yang dikritik tapi gurunya  termasuk yang dikritik. Yang menarik dari pemikiran Xun Zi adalah pernyataannya mengenai penciptaan. Xun Zi beranggapan bahwa penciptaan itu tidak ada tapi melalui proses dan tiada pencipta. Xun Zi beranggapan jika ada pencipta yang masih memiliki perasaan , emosi , dan keinginan maka pencipta itu cacat dan tidak bisa disebut pencipta. “Manusia pada dasarnya jahat” tidak sekedar pengucapan begitu saja tapi melalui penelaahan dan perenungan yang mendalam. Bagi Xun Zi , manusia memiliki sifat mutlak yang kita sebut saja “RenXing. RenXing ini sederhana sekali dan kita tidak akan mengingkari bahwa kita memiliki RenXing itu. Manusia jika lapar akan mencari makanan, jika kedinginan akan mencari kehangatan, jika lelah akan berpikir untuk istirahat, selalu ingin mendapat keuntungan tidak ingin mendapat kerugian. Karena dasar RenXing inilah maka sosial masyarakat terbentuk. Manusia memiliki keinginan atau pengharapan, jika keinginan tidak terpenuhi maka akan ada keinginan mengejar pengharapan itu. Karena ada kejar mengejar pengharapan maka adanya pertengkaran dan peperangan. Karena adanya peperangan maka akan ada kemerosotan dalam segala bidang, disitulah akan lahir orang bijak yang akan menata kembali kondisi sosial masyarakat. Karena adanya RenXing itu maka diperlukan suatu aturan agar manusia bisa terkontrol dalam tindakan ingin memuaskan dirinya. Dan aturan itu bisa mencegah peperangan merebut sumber daya alam.

Tinjuan Atas Pemikiran

Tidaklah mudah untuk memberikan tinjuan kritis atas pemikiran – pemikiran dan perkembangan tradisi dalam filsafat Tionghua di atas. Setidaknya ada dua yang dapat dikemukakan. Pertama, tinjauan atas usaha rekonstruksi yang dilakukan konfusian. Dalam basis pengalaman kulturalnya dan refleksi historisnya, Konfusius melihat adanya nilai yang menekankan kembali  tradisi liKonfusius juga menekankan soal  eksistensi dan kekuatan ren, kekuatan dari transformasi moral atas individu manusia dalam relasinya dan transaksi dengan yang lainnya. Ren dalam filsafat Konfusius berarti kualitas yang menegaskan kemanusiaan yang mempunyai kekuatan untuk  mengembangkan kemanusiaan dari pusat seorang individu ke sebuah komunitas melalui hubungan manusia yang tertata dengan baik dan atas pertemanan yang harmonis. Kedua, yang menarik dicermati adalah kemampuan mereka untuk menancapkan pengaruhnya pada generasinya dan generasi sesudahnya dalam sebuah cara yang alami dan spontan. Tidak ada manuver politik dalam mempengaruhi masyarakat. Pengaruh tersebut muncul melalui jalur sosial dan kultural seperti: mengajar, lecturing dan percakapan atau dialog dalam sebuah lingkungan intelektual ataupun yang berbasiskan akademis. Sesuatau yang berbeda dari penyebaran pemiiran tradisi barat.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.